Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

Sastra, Hoaks, dan Humaniora

oleh Wa Ode Wulan Ratna

05 Februari 2018 Durasi: 7 Menit
Sastra, Hoaks, dan Humaniora Sastra dan humaniora memperosalkan kembali apa artinya menjadi manusia di era pasca-kebenaran. (Foto: Joshua Irwandi)

Kali ini saya berkesempatan mengikuti diskusi Bincang Tokoh yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada 17Januari lalu di Taman Ismail Marzuki. Tokoh yang diundang adalah Prof. Melani Budianta, seorang Guru Besar dari Universitas Indonesia. Tentu saja begitu banyak orang yang datang dari berbagai lapisan, mulai dari mahasiswa, penulis, pembaca sastra, penggiat seni, bahkan dosen. Kawan-kawan dari media pun juga berdatangan. Setiap kali beliau memberikan kuliah terbuka atau diskusi, kursi-kursi tidak pernah cukup, begitu pun yang terjadi di ruang kecil Galeri Cipta III saat itu. Panitia kembali naik turun untuk memasukkan kursi-kursi tambahan di ruang itu. Dan terlihat pula Bapak Sapardi Djoko Damono harus duduk menyempil di sudut ruangan. Para penulis kawakan seperti Martin Aleida dan Ben Sohib yang duduk bersempit-sempit ria di bagian belakang, berbaur dengan mereka yang tidak kebagian kursi dan terpaksa harus berdiri bersandar kaca.

Melani Budianta, wanita kelahiran 16 Mei 1954 ini telah dikenal sebagai akademikus, intelektual publik, dan aktivis. Ia meraih gelar sarjana dari Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (dulu Fakultas Sastra) Universitas Indonesia pada tahun 1979. Ia kemudian meraih gelar Master dalam bidang Kajian Amerika dari University of Southern California (1981) dan Ph.D. dalam bidang Sastra Inggris dari Cornell University (1992). Perjalanan pendidikannya banyak memengaruhi cara pandangnya tentang kritik sastra dan terlihat dari perubahan orientasi keilmuannya dari new criticsm ke dekonstruksi, dari filologi ke culture studies.

Bincang Tokoh kali itu mengangkat tema tentang Sastra, Hoaks, dan Humaniora. Mengkaitkannya dengan zaman globalisasi saat ini di mana manusia tidak dapat menghindar untuk memproduksi dan mengkonsumsi informasi yang beredar sangat cepat. Informasi yang tanpa sekat memberikan kemungkinan terburuk, menyesatkan, mewartakan kebohongan atau istilah lainnya hoaks. Hoaks kemudian dapat dikapitalkan, memberikan keuntungan bagi sebagian orang.

Dipandu oleh Zen Hae selaku moderator kala itu, Melani Budianta memberikan pencerahan berharga mengenai peranan sastra dan humaniora dalam menghadapi hoaks. Saya sendiri tak berkesempatan banyak mewawancarai beliau secara utuh karena saat itu saya juga mendapat undangan membantu penyelenggaraan acara itu untuk memamerkan dan menjaga buku-buku pribadi beliau. Karena hal itu pula saya mencoba merangkum diskusi tersebut dalam pertanyaan wawancara. Beberapa pertanyaan juga saya ajukan menyusul melalui email atas saran beliau.

Berikut petikan dialog dengan Melani Budianta:

Apa sebenarnya yang dimaksud hoaks itu?

Hoaks ini memang salah satu kata yang sedang ngetren paling banyak muncul di media sosial. Sedemikiannya kata itu muncul sehingga dia mempunyai daya jual yang cukup tinggi. Ini salah satu hal yang harus kita perhatikan. Kaitan antara produksi tulisan dengan sirkulasi uang, kapital, dan sebagainya tidak bisa tidak. Hoaks adalah kebenaran yang bertujuan untuk memalsukan kebenaran dengan sengaja.

 

Peradaban macam apa yang menandai adanya hoaks?

Ada tiga konteks di balik hoaks. Yang pertama era pasca-kebenaran. Kemudian ada era banjir informasi. Yang ketiga era klikisme atau kebutuhan untuk secara cepat menyebar atau membagikan informasi yang diterima melalui media sosial.

Dalam era pasca-kebenaran yang penting itu bukan kebenaran, melainkan kecocokan sebuah pernyataan dengan emosi kita  dan hal-hal yang kita sudah yakini. Kalau cocok maka itu dianggap benar.

Tidak ada keinginan untuk mendengarkan pihak yang lain, yang berseberangan dengan kita, bahkan jika pendapat yang berbeda tersebut dipaparkan dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Yang penting apa yang cocok dengan saya maka itulah kebenaran. Karena itu seringkali dalam perdebatan panas antar-kelompok, tidak terjadi sebuah dialog. Apa pun yang dikatakan A salah. Apa pun yang dikatakan B, semua benar. Sebaliknya juga begitu. Tidak terjadi saling mendengarkan atau saling tukar pikiran.

Kemudian di era banjir informasi yang berbarengan dengan demokratisasi, tidak ada lagi “gate keeper” atau penjaga gawang yang berfungsi untuk menyaring informasi. Sekarang bukan lagi era sensor. Semua orang pun bisa mengakses, memproduksi, dan mempublikasikan sendiri tulisan dan karyanya. Ini terjadi diseluruh bidang.

Kemudian yang terakhir era klikisme, ketika semua orang beralih ke ruang digital. Semua orang mengulang apa yang sudah disapaikan orang kepada orang lain dengan cepat. Semakin cepat semakin merasa lega. Ini berlangsung secara cepat tanpa sempat diteliti, apakah yang dikirim benar atau tidak.

Dalam konteks global, loncatan ini disebut dengan revolusi digital.

Sastra menciptakan ruang dialog untuk melihat berbagai fenomena di era ini. (Foto: Joshua Irwandi)
Sastra menciptakan ruang dialog untuk melihat berbagai fenomena di era ini. (Foto: Joshua Irwandi)

Loncatan budaya yang paling terlihat dalam revolusi digital itu seperti apa?

Generasi yang satu dan lainnya dibedakan oleh penguasaan teknologi. Ada generasi yang ketika lahir, sudah langsung masuk ke dunia digital. Generasi yang lahir dalam teknologi digital dan yang sebelumnya dibesarkan dengan cara bekerja, berpikir, dan kebiasaan yang sangat berbeda.

Loncatan juga terlihat dari gejala kebudayaan yang lebih besar, yang membedakan abad negara bangsa dengan abad digital. Pakar-pakar nasionalisme seperti Benedict Anderson berbicara tentang era pembentukan negara bangsa, yang ditandai dengan runtuhnya dominasi agama, pemakaian ilmu pengetahuan sebagai basis pendidikan untuk membangun modernitas, bekerjanya kapitalisme media cetak sebagai basis membayangkan suatu bangsa, bangkitnya intelektual muda sebagai penggerak revolusi kemerdekaan.  Saat ini, kita melihat kebangkitan kembali agama untuk mendominasi negara, maraknya irasionalitas melalui hoaks sebagai “pembelajaran massal”, bekerjanya sosial media yang meretas batas bangsa-negara secara global, dan peran generasi muda dalam konsumsi dan produksi era digital, misalnya mulai budaya selfie.

Apakah ini sebuah regresi? Bagaimana konteks di negara kita? Kecenderungan regresi cara berpikir seperti apa yang Ibu lihat di era ini?

Regresi menuju irasionalitas, setelah dunia pemikiran sudah bergerak dari modernism ke posmodernisme. Kalau kita lihat perkembangan teori-teori kritik atau teori sastra kita melihat bagaimana rasionalitas itu menjadi sangat penting di dalam modernisme. Modernisme ditunjang oleh kepercayaan pada perkembangan dunia secara linear, bagaimana peradaban semakin canggih, dan semakin baik menyempurnakan hidup manusia. Modernisme percaya pada nilai-nilai yang sifatnya universal. Hal-hal semacam inilah yang kemudian digugat oleh teori-teori posmodernisme bahwa peradaban manusia tidak berkembang secara linear. Ada keterputusan. Ada teknologi yang bukan menyempurnakan hidup manusia tapi menghancurkan keseimbangan ekologi. Ternyata rasionalitas manusia itu tidak begitu bisa diandalkan, ada kerja bawah sadar manusia, ada realitas yang kompleks, ada perbedaan kultural yang tidak bisa dipukul rata.

Modernitas sudah menjadi tatanan hidup yang tidak bisa dinafikan, tetapi kritik terhadap modernitas membuat kita sadar akan jarak yang besar antara yang kaya dan yang miskin, yang dominan dan yang terpinggirkan. Maka muncul gugatan untuk membuat tatanan yang lebih inklusif. Mulai diperkuat kesadaran tentang etika, tentang keseimbangan, tentang pemberdayaan yang terpinggirkan oleh modernitas.

Tetapi saat ini landasan berpikir yang mengandalkan pada rasionalitas itu bukan dikritik untuk disempurnakan, tetapi untuk diganti dengan cara bepikir yang tidak menghargai rasionalitas. Manusia kembali pada keyakinan hakiki, pada primordialisme, dan pada sentimen kelompok yang menyulut kebencian. Ini suatu regresi.

Lalu bagaimana kaitan sastra dengan hoaks?

Sebetulnya salah satu keunikan karya sastra, keunggulan karya sastra, atau bukan hanya karya sastra tapi juga seni yang lainnya adalah membuka ruang-ruang untuk dialog. Membuka perspektif untuk melihat dengan cara yang berbeda-beda. Kita melihat sastra tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kita sehari-hari, dan kehidupan sehari-hari yang melingkupi kita saat ini adalah peredaran yang sangat tinggi dari apa yang disebut hoaks itu tadi. Jadi sastra sebagai rekaan bersaing juga dengan rekaan-rekaan yang lain, yaitu hoaks.

Jelas sastra dan hoaks itu berseberangan karena sastra adalah fiksi yang pada kenyataannya mempunyai kebenarannya sendiri. Memang bukan kebenaran secara tulen tapi dia memiliki kebenaran secara simbolis, secara metaforis, inti esensi dibalik rekaan yang disampaikan.

Hoaks sendiri merupakan kebenaran yang bertujuan untuk memalsukan kebenaran dengan sengaja. Sastra menunjukkan pengalaman estetis seni untuk mengolah emosi kita, mengolah semua sensitivitas kita untuk memaknai realitas dengan cara yang berbeda. Sedangkan hoaks itu mengeksploitasi emosi kita untuk mengkultuskan berbagai prasangka. Jadi memang berbeda walaupun ada juga sastra yang main-main, bukan main-main sebenarnya istilahnya.

Apa kira-kira yang bisa dilakukan sastra dalam hal ini?

Sebenarnya sudah banyak sastra yang meramalkan kecenderungan zaman ini. Di Amerika ketika Trump menang menjadi Presiden Amerika Serikat, novel 1984 karya George Orwell menjadi sangat laris. Karya yang ditulis tahun 1949 ini bercerita soal masa depan, ketika aktivitas manusia pada tahun tersebut diawasi oleh kamera pengintai Negara yang merepresi.

Karya sastra ini bisa mengimajinasikan suatu kecenderungan yang kemudian ternyata berulang. Manuskrip-manuskrip yang lama seperti Ronggowarsito, Serat Kalatidha, sastra dapat membangun kesadaran pada suatu kecenderungan yang mungkin bisa terjadi.  Karya sastra yang realis juga dapat mengingatkan kita pada hal-hal yang cenderung kita remehkan, dan tidak kita perhatikan dalam kehidupan sehari-hari.  

 

Adakah karya sastra yang merespons era Hoaks seperti saat ini?

Saya berikan dua contoh respons kreatif terhadap era pembodohan melalui hoaks. Karya Martin Suryajaya, Kiat Sukses Hancur Lebur dapat dilihat sebagai “muntahan hoaks”. Ia meledek dengan membuat parodi terhadap hoaks dalam kehidupan sehari-hari. Efeknya adalah rasa lucu, ironi, dan kesadaran bahwa jangan-jangan kita sudah menjalani hidup dengan cara yang sangat konyol dan tak masuk akal. Contoh lain adalah karya Feby Indirani, Bukan Perawan Maria, yang menampilkan hal-hal yang menjadi kontroversi dengan bahasa dan gaya yang sederhana. Alur dan paparannya seakan mengafirmasi kebenaran absolut yang dibela oleh kubu A dan B. Tetapi di penghujungnya, ada jeweran untuk membuat pembaca berpikir ulang. Ini sebuah respon kreatif bagaimana kedua karya menyikapi era pasca-kebenaran.

 

Bagaimana sastra dan humaniora menyikapi hoaks di zaman “pasca-kebenaran” ini?

PR humaniora mempersoalkan kembali apa artinya menjadi manusia di era digital dan era pasca-kebenaran.

Sastra dan berbagai cabang seni, melalui daya imajinatif dapat membangun pengalaman estetis untuk memahami orang yang berbeda, untuk membangun empati, untuk melihat dunia dengan perspektif yang berbeda. Ilmu-ilmu humaniora membangun pengetahuan budaya dengan perspektif yang humanis, memahami persoalan dalam kompleksitasnya (tidak secara simplistis) dan membangun sikap kritis. Intinya adalah bagaimana melalui karya kreatif dan kajian kritis orang bisa membukakan diri untuk berdialog dengan“Yang Lain”, tidak menutup diri dan tak peduli pada yang berbeda.

 

Lalu bagaimana peran humaniora dalam menyikapi psikologi digital manusia saat ini, di mana media telah menjadi milik siapa saja dan kita bisa menemukan hal-hal yang tidak mungkin di dunia riil, seperti kebebasan ekspresi yang berlebihan?

Intinya adalah memberikan berbagai macam pilihan yang menyehatkan untuk beraktivitas, serta membangun keseimbangan antara interaksi di media sosial dan di dunia nyata. Salah satu caranya adalah dengan menumbuhkan kesukaan membaca karya sastra dan karya seni yang berkualitas sejak kecil, dan membangun kemampuan mengekspresikan diri melalui berbagai macam medium, termasuk tari, seni olah peran, olah raga, dan aktivitas di alam bebas. Dengan demikian anak mempunyai pilihan yang lebih sehat.

Media sosial memang tidak bisa dijauhkan dari generasi muda, tetapi cara memakainya dengan rasional dan sehat masih perlu diajarkan. Gerakan literasi media untuk generasi muda merupakan salah satu strategi. Berbagai kegiatan dapat dilakukan untuk itu, misalnya sayembara membuat karya yang membangun kepekaan sosial di media sosial, komunitas anak muda melek media.

Apakah menurut Ibu sastra telah mendapatkan ruang yang layak di media sosial sebagai ruang untuk memaparkan kebenaran? Saya melihat perkembangan teknologi juga menjadi tempat yang subur bagi tumbuh kembangnya sastra hoaks sendiri, juga medan pertempuran antarseni dan seniman dalam berdialog, dan lahirnya kritikus-kritikus yang bisa dimanipulasi.

Tentu bisa saja seorang penulis menghasilkan karya sastra yang menyebarkan ideologi untuk mengharamkan kepercayaan orang lain atau membangun stereotip negatif tentang orang yang berbeda. Tetapi sastra memang sebuah karya rekaan yang membangun kebenaran simbolis, berbeda dari hoaks yang disebarkan sebagai kenyataan tap isebenarnya merupakan tipuan. Jadi tidak ada sastra hoaks.

Untuk membangun kondisi sehat bagi bertumbuhnya karya sastra yang berkualitas memang perlu dibangun kritik sastra yang sehat pula. Dengan kritik sastra yang ditulis oleh berbagai elemen masyarakat pembaca, masyarakat jadi kritis pada pilihannya, dan pengarang belajar menulis karya yang lebih berkualitas.

Masih pentingkah sastra kanon bagi kita saat ini? Kini batasan antara sastra serius dengan sastra pop telah menjadi kabur. Apakah ada definisi atau pengertian sastra masa kini, misalnya batasannya seperti apa, apakah dilihat dari unsur intrinsiknya atau lainnya?

Tidak terlalu penting mengkanonisasi sastrawan, tetapi kritikus dengan berbagai perspektifnya dapat mensosialisasikan karya-karya yang dianggapnya baik dengan berbagai argumennya.

Tentu karya sastra bernilai dari unsur-unsur yang membangunnya, bahasanya, dan jika sebuah cerpen atau novel, dari caranya bertutur, membangun tokoh, menciptakan ketegangan dan konflik, latar yang membangun suasana, dan seterusnya. Tidak ada karya sastra yang bagus tanpa hal-hal tersebut. 

Istilah “posmo”, “absurd”, “surealis” dan seterusnya tidak terlalu penting untuk mengacu pada karya yang berkualitas. Hal-hal tersebut hanya terkait dengan gaya dan aliran belaka. Sastra bergaya apa saja dapat menjadi bacaan yang sehat, termasuk sastra populer dari berbagai genre. Genre lain seperti komik yang berkualitas juga merupakan bacaan yang sehat bagi siapa saja.

Jembatan yang membawa saya ke dunia pengetahuan adalah dunia cerita. (Foto: Joshua Irwandi)
Jembatan yang membawa saya ke dunia pengetahuan adalah dunia cerita. (Foto: Joshua Irwandi)

Buku sastra seperti apa yang kira-kira bisa mengubah cara pandang kita baik terhadap hoaks maupun tatanan dunia saat ini?

Ada begitu banyak bacaan di sekitar kita. Kita bisa mengkritisinya. Seandainya pun bacaan itu menyampaikan hal-hal yang kurang mencerahkan, mendiskusikannya dalam komunitas dan kelompok membaca bisa juga menjadi sarana membangun sikap kritis.

 

Bisakah Ibu menceritakan mengapa Ibu tertarik mempelajari sastra dan dunianya sehingga mengantarkan ibu menjadi seperti saat ini?

Daya tarik dunia sastra bagi saya diawali dengan dongeng-dongeng lisan yang diceritakan oleh Ayah saya semasa saya masih balita, seperti Sun Go Kong, Anuman, Tiga Musketeer, Ali Baba, Sinbad, dan tokoh-tokoh Seribu Satu Malam, Charlie Chaplin, dan Profesor Linglung tokoh komedi karangan Ayah sendiri.  Di sekolah satu-satunya yang membuat mata saya terbuka adalah ketika guru mulai bercerita. Saya merasa jembatan yang membawa saya ke dunia pengetahuan adalah dunia cerita. Di kamar kakak laki-laki saya, ada sebuah lemari antik berisi buku yang selalu ia buka dua atau tiga kali dalam setahun ketika dia libur kuliah. Kakak saya banyak sekali menyimpan buku-buku saku berbahasa Inggris terbitan Penguin, dari buku sastra klasik dunia sampai buku fiksi sains, berbagai komik berbahasa Inggris dan Belanda, Tintin, Rin-Tin-Tin, Superman, Zorro, Wonder-Woman, dan lain-lain. Jika pintu kamarnya terbuka kami boleh masuk ke dalam dan menikmati koleksi komiknya.

Yang lekat dalam ingatan saya, suatu ketika terjadi kebakaran di rumah tetangga kami. Api menjalar ke atap kamar kakak saya. Ibu menarik anaknya satu per satu keluar halaman, tetapi kemudian masuk kembali dan mendorong lemari buku kakak saya. Mungkin itu ungkapan cinta Ibu kepada anak-anaknya. Tetapi pesan lain yang disampaikan, betapa berharganya buku-buku!

Tradisi baca tulis dalam keluarga saya juga didukung sebuah perpustakaan kecil di samping lemari antik kakak saya yang terdiri atas berbagai macam buku anak-anak dalam bahasa Indonesia, dari komik wayang Mahabarata dan Wayang Purwa, cerita terjemahan Karl May, Louise M. Alcott, Laura Ingalls Wilder, Mark Twain, Hans Christian Andersen, saduran cerita anak-anak seperti Si Jamin dan Si Johan, dan cerita anak-anak lainnya terbitan Balai Pustaka tahun 1960-an. Perpustakaan itu hasil “tabungan” hadiah kenaikan kelas, hadiah Natal, tahun baru, dan lain-lain.

Kebanggaan memiliki perpustakaan kecil terasa ketika guru kelas VI meminta saya untuk pulang ke rumah mengambil satu dua buku untuk dibacakan di kelas. Sang guru memiliki ide cemerlang. Anak-anak yang mempunyai buku diminta membawa buku-buku mereka untuk ditaruh di lemari kelas. Jadilah sebuah perpustakaan bergulir. Anak-anak saling bertukar buku sampai semua buku terbaca.

Budaya baca tulis dalam keluarga dan sekolah merupakan landasan yang penting bagi karier saya kelak.

 

Terakhir, apa impian Ibu terhadap sastra Indonesia?

Impian saya sastra Indonesia semakin produktif dengan berbagai ragam sastra berkualitas yang digali dari alam, budaya, dan sejarah nusantara dan dunia. Pengarang muncul dari berbagai pelosok, infrastruktur sastra semakin canggih, didukung oleh negara, media massa, dan masyarakat. Komunitas pembaca dan kritikus bergairah untuk membincangkan karya sastra dan sastra Indonesia diterjemahkan dan dikenal luas oleh dunia.(*)

Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna. Editor Sastra di Jurnal Ruang. Seorang penulis, editor lepas, dan pengajar lepas.