Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

Tentang Yockie, Dari Jauh

oleh Raka Ibrahim

06 Februari 2018 Durasi: 6 Menit
Tentang Yockie, Dari Jauh Dokumentasi majalah AKTUIL

CATATAN REDAKSI

Pada 5 Februari 2018, musisi legendaris Yockie Suryo Prayogo meninggal dunia. Ia tak hanya dikenal sebagai keyboardis untuk grup kawakan seperti God Bless, Kantata Takwa, dan Giant Step. Yockie juga dihormati sebagai music director dan komposer yang telah berkolaborasi dengan Chrisye, Iwan Fals, hingga Pure Saturday.

Kami mengenang lagi pertemuan Jurnal Ruang dengannya lebih dari setahun lalu, dan mencoba membedah warisannya bagi musik Indonesia.

 

***

Saya hanya mendapat dua jam dengan Yockie Suryo Prayogo, tetapi dua jam sudah lebih dari cukup. Akhir November 2016, diburu deadline tulisan dan macet ide, saya mendapati diri saya menembus hujan dengan mobil sewaan menuju rumahnya di Tangerang. Ketika saya tiba di pintu depan rumahnya, saya membeku. Ada dosa asali yang tak berani saya akui: saya tahu ia legenda. Namun, saya tidak tahu persisnya kenapa.

Istrinya menyambut saya dengan ramah, menawarkan teh hangat dan menanyakan apakah saya tersasar saat mencari rumah mereka, tadi. Yockie tersenyum sekilas saat saya menjabat tangannya. Ia sedang didera flu parah, dan suaranya terdengar berat, ganjil. Tubuhnya yang ringkih ia sembunyikan di balik mantel tebal, dan meruapkan aroma balsam yang samar.

Kami duduk di ruang tamunya, dan Yockie menyalakan televisi. “Makin kacau saja orang-orang ini,” ucapnya, sekilas. Saya menengok penasaran. Berita sedang menyiarkan racauan demonstran-demonstran garis keras yang merayakan ditangkapnya Gubernur Basuki Tjahaja Purnama atas tuduhan penistaan agama – kasus yang akan memenjarakannya beberapa bulan kemudian. Ditemani air putih – saya sungkan menerima tawaran teh hangat dari istrinya – kami bertukar komentar nyinyir tentang berita tersebut. Tiba-tiba ia berbicara serius dan panjang mengenai persoalan keberagaman dan kedewasaan dalam demokrasi, dan saya mendengarkannya tanpa berani berceloteh.

Walau sedang sakit, ia tidak pelit opini. Selama satu jam ke depan, Yockie bercerita panjang lebar mengenai Kantata Takwasupergroup yang dulu ia gawangi bersama musisi kelas berat macam Iwan Fals dan Sawung Jabo; dengan dukungan dari sastrawan WS Rendra dan sokongan dana pengusaha Setiawan Djody. Barangkali sifatnya memang berapi-api, atau saya memilih topik yang tepat, namun Yockie tidak tersasar pada nostalgia mengenai proyek seni legendaris tersebut. Ia justru menggunakan Kantata Takwa sebagai kacamata untuk memandang persoalan yang kini mewujud di hadapan kami, di layar televisi.

“Ada gejala kita mengulangi kejadian yang sama, kesalahan yang sama,” tuturnya, muram. “Seolah-olah 32 tahun di bawah Orde Baru itu tidak pernah terjadi.”

Ia berbicara dengan yakin, dengan tata bahasa yang begitu sempurna sehingga ia terdengar seperti telah melatihnya sebelumnya. Ucapannya pedas dan kritis. Kantata Takwa, kisahnya, tak pernah dimaksudkan sebagai sekadar proyek seni hura-hura. Melainkan sebagai forum bagi seniman untuk mengekspresikan pandangan kritis terhadap ketidakadilan. Setelah WS Rendra meninggal dan para bekas anggota Kantata Takwa reuni, Yockie mempertanyakan maksud berkumpulnya mereka. Semestinya mereka tidak sekadar kumpul untuk tampil, namun mesti ada semangat zaman yang ditanggapi. Kritik mereka yang tersampaikan melalui lagu harus dicari lagi konteksnya. Ketika sikap tegas ini tidak disambut baik oleh kawan-kawannya yang lain, Yockie mundur dari proyek tersebut. Saya melihatnya tertawa terbahak-bahak saat berseloroh bahwa Kantata Takwa – pasca kematian Rendra – menjadi “seperti band SMA”.

Tidak ada kata-kata yang cukup untuk membahas sosok Yockie Suryo Prayogo. Barangkali butuh selusin buku untuk membedah warisan musikalnya saja – belum lagi warisan pemikirannya mengenai politik, isu sosial, hak cipta, hingga demokrasi yang tercecer di pelbagai wawancara dan di blognya yang mencerahkan meski bikin sakit mata desainnya itu. Namun, perangainya yang keras kepala dan blak-blakan itu adalah benang merah dari percakapan manapun mengenai Yockie. Ia bukan musisi yang kenal kata kompromi.

Ketika saya bertemu dengan Iwan Fals dan Donny Fattah untuk wawancara, pertemuan saya dengan Yockie saat itu selalu menjadi pembuka percakapan yang manis. Kedua orang itu mengangguk perlahan, seolah langsung paham sosok seperti apa yang saya maksud tanpa perlu saya ceritakan secara detail. Yockie yang berapi-api, yang punya ide besar tentang segalanya, yang tidak berkurang energinya meski usianya semakin senja dan kesehatannya terus memburuk. Saya hampir menduga begini: bagi Iwan dan Donny, jika saya betah mewawancarai Yockie, pastilah saya bisa ‘menangani’ mereka berdua. Yockie seperti litmus test. Mewawancarainya memberi saya kredibilitas yang janggal.

Dan inilah yang aneh dari Yockie – ia meninggalkan jejak di hampir semua pencapaian terbaik musik populer Indonesia sepanjang 40 tahun belakangan, namun reputasinya nyaris tanpa cela. Ia tak seperti Iwan, misalnya, yang harus menerima kritik (menjemukan) bahwa ia melembek pasca masa gaharnya di tahun 1980-an. Yockie Suryo Prayogo bukan saja salah satu keyboardis terbaik yang pernah dimiliki Indonesia. Ia adalah music director kelas dewa, produser jagoan, dan pria dengan telinga yang sempurna untuk mengembangkan sebuah lagu. Ia hadir pada masa-masa singkat dan mendorong banyak artis ke puncak kreativitasnya. Kemudian saat artis tersebut mulai melenceng dari ‘doktrin’ atau standar yang ia tetapkan, ia berkonflik dengan mereka dan angkat kaki.

Tanya saja Chrisye. Sejak debutnya sebagai penyanyi solo di pertengahan dekade 1970-an hingga awal dekade 1980-an, musiknya banyak ditangani oleh duet maut Yockie dan Eros Djarot. Chrisye memang dikenal sebagai pengampu standar di musik pop Indonesia, namun pada masa-masa awal kariernya ia berada pada level kreativitas yang luar biasa. Bayangkan melahirkan seorang bintang pop yang pernah menjadi anggota penting grup progressive rock se-sinting Guruh Gypsy. Diasuh oleh Eros yang baru pulang dari luar negeri dan masih berapi-api, serta Yockie yang dikenal karena kontribusinya pada album debut God Bless (1975). Persahabatan kreatif Yockie dan Chrisye dimulai dari lagu Lilin-Lilin Kecil yang dirilis tahun 1977 dan langsung jadi legenda, dan dilengkapi oleh syair dan musikalitas jenius Eros pada album Badai Pasti Berlalu. Seterusnya, 9 album Chrisye – mulai dari Jurang Pemisah di 1977 hingga Sendiri di 1984 – selalu melibatkan Yockie atau Eros.

Pasca album Sendiri, trisula maut itu pecah kongsi. Pada biografinya yang ditulis Alberthiene Endah, Chrisye mengeluh bahwa mereka bertiga berbeda visi mengenai arah musiknya. "Mungkin karena kami terlalu saling memiliki. Kami merasa berhak atas satu sama lain,” tuturnya pada waktu itu. “Eros dan Yockie sangat menjaga saya di jalur musik yang mereka yakini sebagai terbenar untuk kami bertiga. Lalu, waktu bergulir dan banyak perubahan muncul. Yockie dan Eros sepertinya tidak terlalu menyukai saya masuk ke dalam jalur musik yang sangat pop dan terlalu komersial. Mereka tak tahu, saya butuh hidup. Saya punya keluarga.”

Tentu tidak adil untuk menyebut bahwa output musikal Chrisye setelah itu miskin secara musikalitas – walau maaf Erwin Gutawa, album Badai Pasti Berlalu gubahanmu megah, tapi tidak seintim dan semanis versi asli yang diaransemen oleh Eros bersama – yak benar – Yockie. Dan patut diakui, kesuksesan komersil besar memang menyambut Chrisye setelah bubarnya kerjasama antara mereka bertiga. Namun, sulit untuk berargumen bahwa pop ceria Aku Cinta Dia selevel dengan new wave sinis Lenny (album Resesi), atau instrumentasi manis Percik Pesona (1979) yang niscaya membuat Tatsuro Yamashita sekalipun terguncang.

Apalagi Jurang Pemisah – mungkin album Chrisye yang paling banyak ‘dikotori’ jari-jari ajaib Yockie. Simak saja title track dari album tersebut, nomor sepanjang 9 menit yang justru tak terlalu banyak diramaikan oleh nyanyian Chrisye. Malah Yockie yang maju ke panggung utama. Saya memaki dengan kencang ketika lagu tersebut mendadak dipecah oleh solo piano/keyboard dari Yockie yang hampir menghabiskan separuh lagu. Di tengah celotehan piano yang sarat pengaruh musik progressive rock dan klasik, mendadak Yockie menyelipkan fill nada-nada dengan notasi Jawa-Bali. Persis sebelum lagu tersebut hendak berubah menjadi saudara kembar Chopin Larung karya Guruh Gypsy, ia pupuskan notasi Jawa itu secara mendadak dan kembali menggila laksana Rachmaninoff di bawah pengaruh acid. Brilian!

Chrisye, Yockie, maupun Eros memang sama-sama keras kepala. Konflik antara mereka bertiga, yang tadinya dimulai karena ketidaksetujuan musikal, berubah menjadi ‘perang dingin’ yang berkepanjangan. “Pertentangan kami tidak pernah bermuara di titik temu,” ungkap Chrisye. “Kesalahpahaman sering terjadi, khususnya ketika saya kemudian memopulerkan kembali lagu-lagu dalam album Badai Pasti Berlalu.” Alkisah, ketika Chrisye dan Yockie bertemu di acara buka puasa bersama yang diselenggarakan label Musica, mereka tak sekalipun bertegur sapa. Bahkan status Chrisye sebagai legenda musik pop Indonesia tidak membuat Yockie bergeming. Mantan ‘asuhan'-nya ini telah membelot dari jalur musikal yang ia tetapkan secara tegas, dan barangkali tak ada ampun darinya setelah itu.

Tanya juga para punggawa God Bless, grup rock yang dipenuhi sosok-sosok keras kepala, di mana Yockie pun menjadi legenda. Bayangkan berada seruangan dengan kuartet maut Ian Antono-Ahmad Albar-Yockie-Donny Fattah, dan mencoba menengahi argumen-argumen mereka yang legendaris itu. Ketika mereka berkumpul lagi pada tahun 1988, Yockie – yang turut serta dalam album debut mereka di tahun 1975 tapi tidak diikutsertakan dalam album Cermin (1980) – merajalela. Hasilnya adalah Semut Hitam, album yang langsung masuk kanon musik rock Indonesia. Jujur, kita bisa berbicara seharian tentang betapa padunya keyboard Yockie dengan bassline bajingan dari Donny Fattah di nomor klasik Kehidupan.

Setahun kemudian, God Bless yang entah kenapa sedang produktif-produktifnya itu merilis album Raksasa. Kita juga bisa berbicara semalaman tentang betapa epiknya intro keyboard dari lagu Menjilat Matahari, salah satu momen keemasan Yockie dalam kariernya di God Bless. Sialnya, kita pun bisa berbicara panjang lebar mengenai bagaimana Yockie angkat kaki dengan dramatis dari God Bless. Di tengah suasana studio yang tegang dan penuh argumen, Yockie adu jotos dengan Ahmad Albar dan vokalis gaek itu membalas dengan mengeluarkan bedil. Pertikaian mereka dilerai oleh istri masing-masing, namun sejak saat itu tak ada jalan rekonsiliasi bagi Yockie dan God Bless.

Saya pun mendengar kisah serupa dari hari-hari terakhir Kantata Takwa, bertahun-tahun setelah ‘reuni’ yang dicibirnya habis-habisan itu. Yockie sendiri bercerita pada saya, bagaimana ia berupaya mengumpulkan kembali para punggawa Kantata pasca Pemilihan Presiden 2014. “Saya bilang ke Setiawan Djody, ‘Mas, kita mengusung suatu tanggung jawab moral, karena kita bagian dari generasi yang turut membakar api Reformasi,” kenang Yockie kepada saya. “’Kalau sekarang saya lihat kondisinya seperti sama saja, saya merasa punya kewajiban untuk menyampaikan ulang apa yang pernah kita sampaikan. Untuk mengingatkan lagi.'”

Ajakan itu disambut baik oleh Djody. “'Berarti bikin konser, ya,’” ucap Yockie, menirukan kata-kata Djody. “Saya hubungi teman-teman, dan gagal. Terus terang saja, saya berhadapan dengan kekuatan korporasi. Saya dibenturkan dengan mereka. 'Oh, sekarang sudah bicara angka, nih? Sekarang sudah bicara aku dapat apa, kamu dapat apa?' Saat itu saya pikir, nurani Kantata itu sudah tidak ada. Sudah terkikis. Jadi, saya lebih sedih lagi. Ternyata bukan hanya masyarakat kita yang seperti itu, di lingkungan saya sendiri pun begitu!” Sejak saat itu, ia tidak pernah menghubungi para personil Kantata Takwa lagi. Lagi-lagi, Yockie melihat bahwa mereka telah melenceng dari prinsip awal, dan baginya itu adalah dosa besar.

Mungkin, memang begitulah ia – sosok yang jenius, keras kepala, dan kompleks. Ke manapun Yockie pergi, ia dihormati bukan karena ia seorang frontman yang kharismatik macam Ahmad Albar, atau karena ia ikon satu generasi seperti Iwan Fals. Ia dihormati karena ia telah membuktikan idealisme dan sikapnya, berulang kali. Ia dihormati karena perangainya yang kritis tanpa pandang bulu, karena pemikirannya yang selalu bercabang dan memandang sesuatu dari sudut pandang yang lebih luas. Ia tahu di mana ia mesti memosisikan diri dalam tiap proyek yang ia kerjakan, dan ia tak segan menegur siapapun yang menurutnya melenceng dari posisi tersebut. Bagi musik Indonesia, ia semacam kompas moral yang pasti akan bercuap bila kita mulai keluar jalur. Bagi banyak orang, ia seperti guru. Kita bisa bersandar pada nasihatnya, pada prinsip yang ia tetapkan. Kehadirannya membuat kita yakin bahwa musik kita belum sepenuhnya tersesat.

Tak lama setelah tersiar kabar meninggalnya Yockie, saya tak sengaja melihat unggahan musisi Kartika Jahja di media sosial. Yockie sendiri masih terhitung kerabat Tika. Bertahun-tahun lalu, kisahnya, Yockie menciptakan lagu khusus untuk sebuah acara keluarga dan mengundang Tika muda menyanyi. Singkat cerita, Yockie memuji suara Tika, namun beropini terus terang bahwa tipikal suaranya tidak pas dengan musik pop. Maka, ia menyarankan Tika untuk lebih banyak mendengarkan musik di luar arus utama. “That was 1992,” tulis Tika, penuh haru.

Saya mengingat kembali pertemuan singkat saya dengan Yockie, lebih dari setahun lalu, dan ikut tersenyum simpul membacanya. Ia memang punya caranya sendiri. Kita dapat mendengarkannya ketika ia bercerita, baik melalui jemarinya atau melalui ucapannya. Namun terutama, kita dapat melihatnya dari tindakannya. Walau saya hanya mendapatkan dua jam pertemuan dengannya, dan walau saya baru betul-betul membedah warisan musikalnya setelah perjumpaan kami saat itu, saya mendapati diri saya berduka. Pagi ini, hantu dari tahun 1979 mengalun lembut di stereo, seolah memanggilnya mendekat. “Engkau di balik sana,” nyanyi Chrisye pada lagu Dewi Khayal, ciptaan Yockie bersama Fariz RM. “Menjelma jadi mega-mega...” (*)

Raka Ibrahim

Raka Ibrahim, Editor Musik di Jurnal Ruang. Tulisannya telah dimuat di berbagai antologi, zine, & publikasi independen seperti Jakartabeat dan Pindai. Mendirikan webzine Disorder Zine pada tahun 2013.