Baca tema bulan ini: Friksi

Februari 2018

Friksi

Perkembangan kebudayaan kita tak pernah jauh-jauh dari konflik, kesalahpahaman, dan perbedaan ideologis. Namun, justru kritik dan adu pemikiran seperti inilah yang membuat semuanya lebih seru. Februari ini, kami membahas polemik dan friksi yang menjadikan khazanah kebudayaan kita lebih kaya.

Sastra Mengkritik Dogma Agama

oleh Teguh Afandi

11 Februari 2018 Durasi: 5 Menit
Sastra Mengkritik Dogma Agama Bukan Perawan Maria. Feby Indirani. Pabrikultur, Mei 2017. 206 Hlm.

"Tapi bukankan itu tujuan semua muslim? Masuk surga, kan? Dan surga yang dijelaskan adalah tentang kesenanganmu, dengan para bidadari. Bukan dengan istri, bukan aku!" (Cemburu Pada Bidadari, hlm. 68)

Oxford Dictionaries memiliki tradisi unik saban tahunnya, yakni memilik ‘kata tahunan’--word of the year, yang mewakili fenomena dunia tiap masa. Di 2016, istilah post-truth[1] dinobatkan sebagai word of the year. Post-truth adalah suatu keadaan di mana daya tarik emosional memiliki kekuatan lebih dalam pembentukan opini daripada fakta objektif. Atau dalam istilah sederhana ialah menjamurnya hoaks yang diimani banyak orang.

Sedangkan word of the year 2017 adalah youthquake[2], bermakna sebentuk budaya, perilaku politik, atau perubahan sosial yang dimasifkan oleh anak-anak muda dan mampu memberi pengaruh besar. Sadar atau tidak, dua kata dapat kita tarik benang merah. Anak-anak muda selain sebagai promotor aneka perubahan sosial, juga dituntut untuk memerangi berita fiktif. Bukan sebaliknya, menyebarkan hoaks atau mudah terbakar isu-isu fiktif.

Apakah sastra mampu menjadi tameng untuk memerangi post-truth? Atau bagian dari hoaks yang tidak mencerahkan? Dua-duanya ada dewasa ini. Namun, setidaknya banyak pengarang lewat karya-karyanya mencoba menawarkan cara berpikir jejeg hingga tidak mudah diserang isu-isu fiktif. Dalam buku kumpulan cerita pendek Bukan Perawan Maria, Feby Indirani mencoba --kalau pun tidak bisa memberi tuntunan agar tidak terjebak post-truth--, setidaknya memberi kisah-kisah yang kita dapat bercermin begini seharusnya kita memperlakukan dogma agama.

Mengapa agama? Karena aspek kehidupan ini sudah tercemar banyak berita fiktif. Dan sayangnya, masyarakat kita mudah sekali digoyangkan dengan hal itu. Sampai-sampai, Paus Fransiskus menyebut berita hoaks sebagai dosa yang sangat serius dan penyebarnya melakukan dosa komunikasi[3].

Judul buku kumpulan cerpen ini begitu bombastis dan mengundang kernyitan di kening. Pun cerita-cerita di dalamnya. Tak jarang saya berhenti sejenak, antara mengiyakan dan terpingkal oleh satire penulis.

Dalam cerpen pertama, “Baby Ingin Masuk Islam” kejernihan logika kita sebagai umat beragama akan diserang oleh Feby. Seekor babi bernama Baby menyatakan diri ingin masuk Islam. Sidang majelis para kiai riuh oleh pembelaan Kiai Fikri.

Baby menunjukkan kesungguhannya masuk Islam, dan saya termasuk orang yang percaya hidayah bisa mengubah dan menyentuh siapa (dan apa) saja. (hlm. 2)

Kisah ajaib Baby sejatinya adalah simbol, bagaimana posisi logika menjelaskan halal-haram. Sikap Kiai Fikri adalah sikap paling arif bila ada pada kondisi demikian. Menyerahkan semua keputusan sah-tidak sah kepada Tuhan, karena itu bukan domain manusia. Manusia hanya bisa menuntun dan memberi petunjuk, bukan mendakwa.

Kisah Baby ditutup dengan keputusan majelis orang suci menolak niatan masuk Islam. Juga sebuah tikungan tajam, yang juga menjawab pertanyaan pribadi saya, kalau babi masuk Islam apakah hukumnya menjadi halal.

Karena Baby sudah masuk islam, saya ingin ikut mencicipinya. (hlm. 8)

Tradisi agama dalam buku ini, digambarkan begitu cupet, kaku, dan tidak fleksibel terhadap sosial sekitar. Menyamakan standar orang lain dengan diri kita, dan berujung memaksakan kehendak dan menihilkan hak orang lain. Dua cerita selanjutnya, “Tragedi Jumat Siang” dan “Rencana Pembunuhan Sang Muazin” adalah fragmen yang mencerminkan hal itu.

Bagaimana bila kamu dalam perjalanan tergesa-gesa, genting dan super darurat di hari Jumat, tapi semua semakin kacau karena hampir semua jalan ditutup untuk keperluan solat Jumat? Cerpen “Tragedi Jumat Siang” sangat mengkritik hal ini. Ketika tokoh aku berusaha mengatakan bahwa jalan itu jalan terdekat untuk mempersingkat perjalanan daruratnya, justru dakwaan kafir dilayangkan kepadanya.

“Emang urusan mas apa sih sampai lebih penting daripada ibadah?”

“Aduh urusan penting itu kan bukan hanya ibadah....”

“Mas ini kok ngeyel toh? Sampeyan kafir, ya? Kafir?” (hlm. 11)

Kisah tak jauh beda juga dialami oleh tokoh aku dalam cerpen “Rencana Pembunuhan Sang Muazin”. ‘Aku’ adalah seorang satpam di tempat hiburan malam, yang harus bekerja hingga pukul satu atau empat dini hari. Pekerjaan tersebut membuatnya kurang tidur . Dan sedikit kurang beruntung, muazin dekat rumahnya sudah mulai berkoar-koar melalui speaker membangunkan semenjak pukul tiga dini hari. Bisa dibayangkan betapa kesalnya tokoh aku. Tidak diberi kesempatan istirahat, dan hampir-hampir berniat membunuh muazin, meski paling tidak pikiran itu bersahabat dalam pikirannya itu.

Muazin itu sebaiknya mati saja. Aku harus melakukan tindakan yang berani demi kedamaian lingkunganku. Kalau bukan aku, siapa lagi? Tidak mungkin Ketua RT pengecut itu. (hlm. 21)

Ritual agama (vertikal, hamba - Tuhan) seolah bagian yang terpisah dari interaksi sosial (horizontal, hamba - hamba). Asal dirimu berbuat baik kepada Tuhan, tak peduli bagaimana lingkungan sekitar.

 

Kulit v.s Isi

Feby dalam beberapa cerita mengkritik dengan keras, sekelompok orang yang lebih mengedepankan tampilan kulit tanpa menguatkan isi. Hingga Islam tampil di mana-mana sebagai atribut semata. Fenomena ini disinggung Gus Mus dalam puisi, “Tuhan Islamkah, Aku?"[4]

Islam agamaku, nomor satu di dunia. Islam benderaku, berkibar di mana-mana. Islam tempat ibadahku, mewah bagai istana. Islam tempat sekolahku, tak kalah dengan lainnya. Islam sorbanku. Islam sajadahku. Islam kitabku. Tuhan, Islam kah aku?

Dalam cerpen “Tanda Bekas Sujud (1)”, dikisahkan orang yang memburu label salih dengan menciptakan sebanyak mungkin noktah hitam di kening, bekas sujud, pertanda dia ahli ibadah lantaran suka berlama-lama sujud. Namun, apa jadinya bila tanda hitam itu semakin banyak dan menghitam semua area wajah? Di sinilah titik cerdas, Feby, sebagai penulis sekaligus pengkritik.

Memang berbeda saudara kita ini, banyak sekali tanda sujudnya. Hanya orang istimewa yang punya tanda seperti itu. (hlm. 37)

Simbol yang lucu sekaligus super-satire ada dalam cerpen “Lafaz 411... Pada (Saya Tidak Tega Menyebutnya)”. Kisah ini sudah sedari judul menyentil kita. Bagaimana kalau muncul 411 (bila dibaca serupa dengan ‘Allah’ dalam huruf hijaiyah) dalam kotoran anaknya. Banggakah? Berkahkah? Atau justru muncul kerisauan bila dianggap merendahkan Tuhan?

Mengutip pendapat Haidar Bagir[5], bahwa memahami teks agama diawali dua hal penting. Pertama adalah menguasai ilmu sintaksis bahasa. Dan yang tidak kalah penting, penangkapan emosional dan batiniah. Hingga kita tidak akan terjebak beragama dengan atribut dan simbol.

 

Suara Perempuan

Dalam peluncuran buku ini di Salihara, beberapa bulan lalu, Ayu Utami menyebut Feby Indirani bersama dua penulis perempuan lainnya, Angelina Enny dan Dias Novita Wuri sebagai ‘Sastra Wangi 2.0’. Penulis perempuan urban yang berusaha menyuarakan kegelisahan perempuan. Feby dalam buku ini tidak absen memasukkan hal-hal yang sangat perempuan kaitannya dengan praktik beragama.

Cerita paling ‘geli’ ketika saya baca sebagai laki-laki adalan “Percakapan Sepasang Kawan”. Perempuan sebagai komoditi badaniyah ternyata tidak hanya di dunia, juga di akhirat. Balasan 70 bidadari di surga justru membangkitkan imajinasi-imajinasi aneh dalam benak Yasmin dan Yasir.

Kisah klise perempuan mandul ada dalam cerpen “Poligami Dengan Peri”. Hingga Annisa menyarankan suaminya untuk poligami. Suara lebih kentara ada dalam cerpen yang juga judul buku, “Bukan Perawan Maria”. Maria hamil tanpa sentuhan laki-laki. Memang dalam cerpen ini dikaitkan dengan kisah Perawan Maria yang melahirkan Yesus atau Siti Maryam yang melahirkan Nabi Isa. Tidak, Maria dalam cerpen ini tidak sesuci itu. Keajaiban yang tidak masuk logika jamak, hingga suara Maria yang dengan yakin bilang bahwa dia tidak pernah disentuh laki-laki, dikesampingkan.

Dan Maria tahu saat itu ia benar-benar sendirian. Hanya berdua dengan bayi di dalam kandungannya. Tidak ada seorang pun yang akan mempercainya. (hal.178)

Prosa-prosa Feby bisa dikatakan berada pada ranah “rawan” hujatan. Bahkan sesuai pengakuannya, ketika cerpen “Rencana Pembunuhan Sang Muazin” pertama muncul di halaman detik.com[6], Febby mengaku mendapat komentar-komentar negatif dari mereka yang hanya sekilas membaca dari judul. Meski sejatinya, Febby masih relatif aman, karena prosanya kritik dan satire atas perilaku beragama kita dewasa ini.

Buku “Bukan Perawan Maria” memang tidak akan memancing kekisruhan sebagaimana pernah terjadi atas Ki Pandji Kusmin. Era keduanya berbeda. Feby menghadirkan cerpen dengan kritik, ketika masa sudah sedemikian terbuka dan prosa dapat menghunjamkan kritik lebih dalam.

Terlepas dari cacat-cacat minor atas tampilan isi buku --yang semoga di cetakan selanjutnya dapat dirapikan, keberanian mengeksplor ranah rawan dan gagasan Feby dalam menyikapi dogma agama harus dihadiahi apresiasi tinggi. Kisah-kisah dalam buku ini secara implisit mengajarkana kita agar tidak menjadi umat beragama yang seperti busa di lautan, mudah diombang-ambing fitnah, berita fiktif, hoaks, dan sekadar ujaran kebencian tanpa ketegasan logika. Sebab beragama itu seyogianya baik secara vertikal dan horizontal, karena Islam adalah risalah memperjuangkan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan peradaban[7]. (*)


Catatan

[1] https://en.oxforddictionaries.com/word-of-the-year/word-of-the-year-2016

[2] https://en.oxforddictionaries.com/word-of-the-year/word-of-the-year-2017

[3] https://www.theguardian.com/world/2017/dec/17/pope-francis-fake-and-sensationalised-news-a-very-serious-sin

[4] Gus Mus membaca puisi ini dalam perayaan 26 Tahun Museum Rekor-Dunia Indonesia di Gedung Kesenian Jakarta, Kamis (28/1/2016). Bait lengkap dapat dibaca di https://www.kompasiana.com/pembelajarmuda12/tuhan-islamkah-aku_57fe233f759773ce2119951e

[5] Dalam buku ”Islam Tuhan, Islam Manusia” (Mizan, 2017) karya Haidar Bagir.

[6] https://hot.detik.com/art/3561130/rencana-pembunuhan-sang-muazin

[7] Dalam buku “Membela Islam Membela Kemanusiaan” (Mizan, 2017) karya Fajar Riza Ul Haq.

Teguh Afandi

Teguh Afandi. Penggiat @KlubBaca.