Sukutangan: Percuma Artsy Tanpa Substansi

oleh Abduraafi Andrian

23 Februari 2018 Durasi: 6 Menit
Sukutangan: Percuma Artsy Tanpa Substansi Ilustrasi khusus Sukutangan untuk Jurnal Ruang

Memang tidak seharusnya menilai sesuatu hanya berdasar pada tampilan luar. Namun, beberapa profesi dituntut untuk mematahkan petuah tersebut. Ada koki yang membuat hidangan agar mengundang selera penikmat boga. Ada penata rias yang merias seseorang agar tampil menawan pada hari pentingnya. Ada juga ilustrator buku yang menggarap sampul agar menarik perhatian calon pembaca.

”Kalau percaya, kami tidak akan bekerja di ranah ini,” ujar Genta Shimaoka disusul tawa Sekar Wulandari Yogaster saat ditanya pendapat mereka tentang pepatah 'Do not judge book by its cover'. Bersama-sama, Genta dan Ndari membentuk tim kecil bernama Sukutangan. Kecintaan terhadap buku membuat pasangan asal Bali tersebut menikmati kerja kolektif mereka sebagai ilustrator buku sejak 2017.

Sebagai pemain baru, Sukutangan telah mendesain sampul buku-buku terbitan penerbit mayor dan independen, dari karya sastra dalam negeri hingga fiksi populer terjemahan. Sukutangan juga terlibat dalam beberapa proyek ilustrasi buku anak-anak dan puisi, serta sempat mendesain logo baru untuk lini genre Teenlit milik Gramedia Pustaka Utama.

Kami mewawancarai Genta dan Ndari tentang peran masing-masing dalam Sukutangan, keunikan pada karya yang dihasilkan, serta inspirasi keduanya dalam berkiprah di dunia seni dan literasi. Mereka juga menyebutkan pengarang yang karya-karyanya amat ingin mereka buatkan ilustrasi sampulnya.

Jelaskan apa itu Sukutangan? Bagaimana brand itu terbentuk?

Genta: Sukutangan berawal dari akun pribadi saya yang difungsikan sebagai ruang katarsis. Objek utama yang menjadi kontennya berupa tangan-tangan yang sedang berjalan, atau melakukan aktivitas tertentu. Hingga suatu hari Ndari—partner saya—mengajak kolaborasi dalam perancangan sampul buku yang kemudian dari saat itu menjadi sebuah pekerjaan yang sangat saya sukai. Kami putuskan untuk menjadikan Sukutangan sebagai brand kami yang khusus merancang sampul buku.

Sebagai tim, bisakah kalian jelaskan peran masing-masing?

Ndari: Dalam tim kami, saya bergerak sebagai account executive dan art director. Sebagai account executive, saya menjadi perantara antara klien atau calon klien dengan kami, biasanya dalam urusan harga, syarat dan ketentuan, serta pengarahan jika sudah ada kesepakatan antara kami dan klien. Setelah itu, barulah peran saya sebagai art director dimulai.

Saya biasanya meminta naskah lengkap, atau sinopsis jika naskah tersebut belum jadi atau belum boleh dipublikasikan. Dalam proses ini, saya akan banyak bertanya pada klien, biasanya penulisnya langsung atau editor, mengenai preferensi desain sampul atau gaya visual yang mereka sukai untuk kemudian saya jadikan salah satu bagian dari referensi.

Setelah mempelajari bukunya, saya membuat moodboard berisi sketsa sederhana dari konsep yang saya punya, meliputi komposisi objek, jenis font, palet warna, gaya visual, elemen-elemen maupun karakter yang ingin ditampilkan, serta filosofi dan pengertian dari masing-masing simbol. Setelah itu, saya akan brainstorm sketsa ini dengan Genta, menambahkan dan mengurangi yang perlu, lalu dia melakukan finalisasi.

Genta: Peran saya sebagai eksekutor dari konsep yang diberikan Ndari, meliputi ilustrasi, tata letak, komposisi, dan tipografi. Setelah proses perancangan berakhir, Ndari kemudian berperan untuk mengevaluasi bagian-bagian dari desain sampul yang telah dirancang.

Seberapa penting ilustrasi sampul sebagai representasi isi sebuah buku?

Ndari: Dengan derasnya arus penerbitan buku saat ini, bagi kami sampul buku sangat penting. Desain sampul yang dieksekusi dengan tepat adalah branding dari buku tersebut. Ia harus bisa bercerita tentang siapa dirinya tanpa kata-kata, mengundang calon pembeli untuk membaca sinopsis lalu membawanya ke kasir.

Tiap warna, font, obyek, dan penempatannya adalah bahasa visual yang sifatnya jauh lebih filosofis dari sekadar bagaimana cara membuat sebuah kemasan yang punya daya jual dan menarik, apalagi “layak Instagram”. Di era teknologi dan media sosial di mana pengalaman indrawi yang konvensional menjadi langka, kami memandang sampul buku yang baik adalah yang mampu membuat buku menjadi karya seni yang punya kedekatan emosional dengan pembacanya.

Haruskah membaca naskah bukunya terlebih dahulu untuk membuat ilustrasi?

Ndari: Menurut saya, idealnya seperti itu. Karena jika sudah baca naskahnya, saya punya pemahaman lebih kuat tentang perasaan apa sebenarnya yang penulis ingin pembacanya rasakan. Bagi saya, poin ini yang menjadi penting dalam saya membuat konsep sebuah buku—bagaimana sebuah desain sampul tak hanya indah dipandang mata, tapi juga representatif dengan isi cerita.

Jenis desain sampul yang paling saya sukai adalah sampul yang ketika saya selesai membaca buku itu dan memerhatikan kembali sampulnya, saya bisa berpikir, “Ah, ternyata maksud gambar ini seperti itu!” Saya suka menyelipkan simbolisasi atau detail kecil dari dalam buku ke dalam sampul. Tidak hanya gimmick tanpa makna. Prinsip saya: percuma artsy tanpa ada substansi.

Genta: Membaca naskah mestinya menjadi keharusan. Terlepas dari arahan yang diberikan editor, menentukan perwajahan yang tepat untuk menjadikan sampul buku sebagai manifestasi dari naskah akan sangat baik hasilnya jika kita tahu apa isi bukunya.

Apa yang membuat Sukutangan unik?

Genta: Penting sekali bagi kami untuk membuat sebuah sampul yang tak hanya punya nilai visual, tapi juga substansial. Kami selalu berusaha menghindari gimmick-gimmick yang tak punya bobot apa pun pada cerita, dan selalu mengeksplorasi gaya visual baru yang belum pernah kami lihat di sampul buku lain.

Sampul buku yang baik adalah yang menghadirkan kedekatan emosional dengan pembacanya. (Ilustrasi khusus Sukutangan untuk Jurnal Ruang)
Sampul buku yang baik adalah yang menghadirkan kedekatan emosional dengan pembacanya. (Ilustrasi khusus Sukutangan untuk Jurnal Ruang)

Ilustrasi buku apa yang merupakan tantangan paling berat? Kenapa?

Ndari: Bagi saya ilustrasi untuk Manurung karya Faisal Oddang cukup berat, karena kami harus banyak riset tentang La Galigo dan gaya visual Bugis. Tapi, saya cukup puas dengan hasilnya!

Genta: Ilustrasi sampul buku-buku fiksi popular yang kebanyakan ditujukan untuk remaja. Tren desain sampul buku di genre ini sudah terlalu banyak menggunakan ilustrasi yang hampir mirip satu sama lain sehingga kadang menjadi terlalu monoton dan rentan plagiat.

Kami selalu ingin menyelipkan simbol yang memiliki makna atau sesuatu implisit di dalamnya, namun seringkali terbentur dengan keinginan beberapa penerbit untuk menyajikan sesuatu yang komersial dan aman, atau yang sedihnya lagi, “layak Instagram” dan mereka tahu akan laku. Akibatnya, beberapa desain sampul seolah menjadi terlalu gamblang dalam memvisualisasikan cerita, tanpa menyisakan sedikit ruang bagi calon pembaca untuk berimajinasi.

Beberapa penerbit pun masih sering meremehkan pembaca muda karena takut mereka tidak paham maksud dari simbolisasi yang kami tawarkan, sehingga lebih memilih desain-desain yang lebih generik.

Siapa inspirasi kalian?

Ndari: Inspirasi terbesar saya saat ini adalah Nicole Caputo, art director asal New York yang menginisiasi gerakan @shedesignsbooks. Desain-desainnya sangat unik dan beliau sangat berdedikasi untuk memberikan ruang bagi desainer dan ilustrator perempuan—mengingat dunia desain grafis saat ini sangat didominasi laki-laki.

Selain itu, saya sangat suka bagaimana Chip Kidd, seorang desainer sampul legendaris, bisa mengambil hal-hal sederhana menjadi elemen desain yang kuat esensi. Darinya, saya masih harus banyak belajar untuk mencari keseimbangan dalam desain, antara misteri (ruang bagi pembaca untuk berimajinasi dari elemen visual yang ditampilkan) dan kejelasan (jalan cerita yang divisualisasikan).

Genta: Inspirasi terbesar saya adalah I Gusti Nyoman Lempad. Karya-karya yang kaya akan kearifan lokal dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Uniknya, Sukutangan adalah tim sepasang kekasih. Bagaimana memberi batasan saat harus benar-benar fokus bekerja dengan ketika kalian berinteraksi selayaknya pasangan?

Ndari: Anehnya, kami tidak pernah benar-benar mempermasalahkan hal ini. Hahaha. Justru karena sepasang kekasih dengan dua sifat dan kemampuan yang berbeda, kami bisa benar-benar cocok bekerja sama. Mungkin karena sama-sama mencintai pekerjaan, kami merasa ketika kami sedang bekerja atau sedang pergi kencan, tidak ada bedanya. Semuanya sama-sama menyenangkan.

Genta: Kami sahabat satu sama lain, jadi kami tidak pernah bertengkar masalah hubungan kami pada umumnya. Pun ketika ada selisih pendapat dalam pekerjaan, kami sudah hafal bagaimana cara untuk membuat satu sama lain paham dan kemudian membuat keputusan yang bulat.

Pernahkah Sukutangan menyelenggarakan ekshibisi?

Genta: Ekshibisi pertama kami pada Februari 2017 di Artotel, Sanur, Bali. Tema yang diangkat bertajuk “Love is Blind Huh!”. Kala itu, Ndari membuat cerita pendek yang kemudian saya visualisasikan dalam empat lukisan. Ekshibisi ini menjadi awal kolaborasi saya dan Ndari yang kemudian membentuk Sukutangan sebagai nama yang mewakili karya-karya yang kami rancang berdua.

Jika sedang tidak ada permintaan membuat ilustrasi, apa kegiatan lain yang kalian lakukan?

Ndari: Karena saya terjun di ranah ini tanpa latar belakang pendidikan desain atau ilustrasi, saya masih harus belajar lebih banyak. Saya sering membaca buku-buku desain, mencari sebanyak-banyaknya referensi, mendengarkan podcast terutama tentang peran perempuan dalam dunia penerbitan dan desain.

Kalau sedang bosan berhubungan dengan desain, saya menulis artikel untuk beberapa media dan mencoba menghabiskan timbunan bacaan saya yang tak pernah habis-habis rasanya. Hahaha.

Genta: Membuat ilustrasi adalah juga hiburan bagi saya. Jadi jika tidak ada permintaan, sepertinya saya akan tetap menggambar. Namun di luar, tidur adalah kegiatan mewah yang akan saya lakukan.

Adakah buku referensi tentang desain grafis yang memengaruhi kalian?

Ndari: Cover dan What We See When We Read karya Peter Mendelsund. Desainer sampul buku dengan sepak-terjang menakjubkan itu menuliskan pengalamannya dalam mendesain—terutama tentang bagaimana cara memvisualisasikan sesuatu yang literal—sambil memberikan ruang bagi para pembaca untuk punya interpretasi sendiri.

Sebuah visual harus punya koherensi dengan cerita, memang—tapi apakah pemahaman personal saya akan selalu sesuai, atau malah berbeda dengan pembaca lainnya?

Mendelsund mengajarkan saya untuk terus merekonstruksi sebuah obyek, sebuah karakter, sebuah latar, atau sebuah perasaan yang ingin saya gambarkan dalam sampul; untuk punya substansi dengan cerita namun juga bisa berdiri sendiri sebagai sebuah perantara antara calon pembaca dengan sebuah pengalaman membaca yang benar-benar baru.

Genta: Do Good Design karya David B. Berman. Buku ini menjelaskan betapa pentingnya perancang desain dan yang menggunakan desain tersebut akan pengaruh dan perannya terhadap lingkungan.

Bacaan favorit kalian masing-masing?

Ndari: Saya sangat suka speculative fiction dan kumpulan cerpen yang gelap. Beberapa buku favoritku ditulis oleh Lydia Davis, Alissa Nutting, Margaret Atwood, John Wyndham, Octavia Butler, Carmen Maria Machado, dan Maggie Tiojakin.

Genta: Animal Farm karya George Orwell, Lelaki Harimau karya Eka Kurniawan, dan segala buku nonfiksi.

Adakah pengarang yang amat ingin kalian buatkan gambar sampulnya?

Ndari: Jika suatu hari dicetak ulang, saya ingin sekali membuatkan sampul untuk buku-buku NH Dini dan Marga T. Buku-buku itu punya kesan nostalgis untuk saya. Untuk buku dari penulis luar negeri, saya ingin sekali berkesempatan membuat sampul untuk buku-buku Angela Carter, Melina Marchetta, dan Ray Bradbury. Buku-buku mereka sangat menarik untuk ditarik simbolisasinya.

Genta: Saya sangat menyukai buku dan kumpulan cerpen karya Eka Kurniawan. Karena beliau merancang sendiri desain sampul beberapa bukunya, akan menarik jika bisa berkolaborasi dan merancang bersama desain sampul dari karya-karyanya.

Apa harapan Sukutangan ke depannya?

Ndari: Kami bisa terus hidup dari memvisualisasikan buku, bahkan hingga tua nanti. Kami terlalu cinta dengan buku, dan kami harap apa yang kami lakukan ini bisa mengajak lebih banyak lagi orang untuk mencintai buku.

Genta: Saya harap desain sampul kami dapat diterima dan dicintai peminat buku Indonesia sebagaimana kami mencintai buku dan sampulnya. (*)

Abduraafi Andrian

Abduraafi Andrian. Editor Fiksi Populer di Jurnal Ruang. Pencandu buku dan pegiat komunitas. Jeda kegiatannya diisi dengan menuliskan pengalaman membaca melalui ulasan di blog bukunya.