Tahilalats dan Fenomena Komik Daring

oleh Abdul Hair

11 April 2018 Durasi: 5 Menit
Tahilalats dan Fenomena Komik Daring Komik daring memberikan gaya baru dalam perdebatan dan kontestasi makna. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Sebagai pengguna media sosial, kita mungkin tidak asing lagi dengan komik daring. Sebab, beberapa tahun belakangan ini, komik daring sering berseliweran di linimasa media sosial kita, entah karena kita yang mengikuti akun komik tertentu atau karena komik itu dibagikan ulang oleh teman kita.

Di antara sekian banyak komik daring yang beredar, Tahilalats adalah salah satu yang paling populer. Di Instagram (media sosial tempat komik daring paling banyak diterbitkan), akun @tahilalats sudah diikuti 2,5 juta pengguna, dan menjadikan komik ini sebagai yang paling populer di media sosial tersebut.

Ada pula Line Webtoon, platform khusus penerbitan komik daring, yang menempatkan Tahilalats pada peringkat kedua sebagai komik paling populer. Tahilalats juga sudah mendapatkan centang favorit dari 3 juta pengguna. Dengan popularitas yang demikian besar, menarik untuk mengamati lebih jauh seputar komik Tahilalats ini.

Bahasan kali ini tidak akan melakukan pembacaan ketat (close reading) terhadap teks komik itu sendiri. Pengamatan seperti itu justru membuat kita tidak akan menemukan ciri khas dari komik daring, sebab cara mengamatinya tidak berbeda dengan mengamati komik cetak.

Dengan mempertimbangkan medium terbitnya Tahilalats yang memiliki karakteristik khas, yang sudah pasti berbeda dengan media cetak, bahasan ini akan mendiskusikan komik dari perspektif lebih luas dari sekadar pembacaan atas teks. Yakni melihat komik sebagai arena kontestasi pemaknaan. Dalam fenomena komik daring, kontestasi pemaknaan ini paling terlihat dari Tahilalats.
 

Mengandalkan Kekuatan Plot

Komik strip Tahilalats karya Nurfadli Mursyid terbit setiap hari di Instagram dan empat kali dalam seminggu di Line Webtoon. Sekalipun terbit di dua media daring berbeda, cerita yang ditampilkan tidak pernah sama. Di Instagram jumlah panel komik ini selalu empat, sedangkan di Line Webtoon bisa lebih dari itu tergantung kebutuhan cerita.

Berbeda dengan komik lain yang punya karakter utama, Tahilalats tidak mengikuti pakem ini. Karakter-karakternya anonim, dan bisa apa saja, mulai dari manusia, hewan, hantu, jin, benda mati, sampai tanda baca. Bentuk seperti ini menjadikan cerita dalam Tahilalats selesai dalam satu episode, dan episode selanjutnya akan menampilkan cerita yang berbeda.

Salah satu episode dari komik Tahilalats. Sumber: Instagram @tahilalats.
Salah satu episode dari komik Tahilalats. Sumber: Instagram @tahilalats.

Gambar Tahilalats sederhana, tidak menampilkan latar belakang secara detail. Komik strip ini lebih menekankan plot cerita. Panel terakhir akan menampilkan kejutan (plot twist) serta purnakata (punchline) menjadi kekuatan utama. Seringkali kejutan dan purnakata ini justru membuat pembaca kebingungan dengan makna komik ini.

Di sinilah kolom komentar memiliki fungsi tambahan. Tidak sekadar sarana untuk mengapresiasi karya komikus, tapi juga media menginterpretasikan makna dari komik tersebut. Pembaca yang kebingungan dapat melihat pemahaman pembaca lain, sedangkan pembaca yang memiliki interpretasi berbeda bisa menyanggah dengan menuliskan komentarnya sendiri.

Dalam episode “Koma” di atas misalnya, ada beragam pemaknaan yang muncul di kolom komentar. Pertama, sang wanita selingkuh dengan orang lain sehingga anak yang lahir sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan sang lelaki yang menjadi pasangan resminya. Pemaknaan inilah yang paling dominan sebagai interpretasi makna episode ini.

Makna kedua, istri dari sang lelaki masih “tanda tanya”, dalam artian jodohnya masih misterius. Konsekuensinya, sang anak masih “jeda”, belum lahir, dan tanda koma dalam hal ini merupakan simbol untuk jeda. Ketiga, komik ini sedang menyindir tren operasi plastik yang tengah marak dilakukan, sehingga tampilan anak dengan sang wanita dan sang lelaki yang telah menjalani operasi plastik menjadi berbeda sama sekali.

Meskipun memiliki fitur serupa, kolom komentar Line Weebtoon jauh lebih interaktif ketimbang Instagram. Line Webtoon memiliki fitur komentar terbaik (best comment) dengan mekanisme setiap pengguna bisa memilih komentar yang mereka setujui atau mereka anggap paling menarik. Semakin tinggi jumlah pilihan pada suatu komentar, semakin tinggi pula peluang komentar tersebut untuk menjadi yang terbaik.

Melalui fitur best comment, pembaca Tahilalats bisa memilih komentar yang mereka anggap memberikan penjelasan paling masuk akal tentang makna komik tersebut. Hampir di setiap episode Tahilalats bisa kita temui pembaca yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap peraih komentar terbaik, sebab menurut mereka makna yang benar dari teks komik tersebut tidak sesuai dengan makna yang terpilih sebagai komentar terbaik.

Perdebatan dalam memaknai komik Tahilalats. Sumber Line Webtoon.
Perdebatan dalam memaknai komik Tahilalats. Sumber: Line Webtoon.

Kontestasi Pemaknaan

Ada dua hal menarik dalam fenomena ini. Pertama, perdebatan klasik mengenai komik sebagai media yang membodohi masyarakat, karena masyarakat adalah agen yang pasif dalam meresapi pesan-pesan media, terbantahkan dengan sendirinya.

Pembaca justru bisa memaknai komik secara berbeda dengan maksud pembuat komik. Bahkan antarsesama pembaca pun bisa memaknai secara berbeda pula. Dalam hal ini pembaca tidak hanya aktif dalam memaknai pesan media seperti yang dikemukakan oleh Stuart Hall [1], tapi sudah sampai pada tahap interaktif dalam aktivitas pemaknaannya.

Jika merujuk pada teori media yang lebih terkini, konsep membaca sebagai aktivitas murni konsumsi sebenarnya tidak lagi memadai untuk melihat fenomena pemaknaan interaktif. Sebab dalam amatan George Ritzer [2], tidak ada aktivitas pengguna internet yang murni produksi atau murni konsumsi saja: aktivitas pengguna internet lebih tepat dilihat sebagai aktivitas produksi dan konsumsi sekaligus pada waktu bersamaan.

Pembeda di antara pengguna adalah, ada pengguna yang lebih dominan aspek produksinya ketimbang konsumsi, ada yang berimbang, dan ada yang dominan aspek konsumsinya ketimbang produksi. Dalam kasus interaksi atas makna komik Tahilalats, produksi dan konsumsinya masuk dalam kategori berimbang.

Kedua, lebih jauh dari poin pertama di atas, Tahilalats telah menjadi arena kontestasi pemaknaan. Atau dengan kata lain, arena dalam memperebutkan dominasi atas makna yang benar. Pada kasus komentar terbaik di Line Webtoon, makna dalam hal ini ingin distabilkan. Artinya keinginan untuk menjadi komentator terbaik adalah kehendak untuk berkuasa dan mendominasi, sebab hanya melalui kekuasaan lah makna bisa stabil.

Makna adalah hasil konstruksi bahasa yang bersifat manasuka, bukan sesuatu yang stabil dan tidak bisa berubah. Karena sifatnya yang demikian, maka setiap praktik pemaknaan merupakan kehendak untuk berkuasa.

Namun, kekuasaan dan dominasi tidak pernah betul-betul stabil secara sempurna. Kekuasaan selalu mendapat perlawanan dari pihak lain, sekecil apa pun itu. Karena kekuasaan diraih melalui praktik pemaknaan, maka praktik pemaknaan yang berbeda adalah sebentuk perlawanan atas dominasi tersebut. Pada titik inilah proses negosiasi kuasa atas makna yang benar berlangsung.

Perlu digarisbawahi, kekuasaan yang dimaksud di sini, mengutip Budiawan [3], bukan sekadar kekuasan dalam skala makro dan terlembagakan. Tapi juga kekuasaan dalam skala mikro, personal, dan sehari-hari, yang sering kali termanifestasikan dalam hal-hal yang dianggap remeh, tidak penting, dan sepele, seperti yang berlangsung dalam praktik pemaknaan atas Tahilalats.

Kekuasaan yang dimaksud dimaknai dalam arti seluas-luasnya, termasuk politik dalam kehidupan sehari-hari. Tahilalats, dengan demikian, telah menjadi komik yang politis, meskipun penggubahnya justru bermaksud membuat komik murni untuk hiburan. Bukan karena berisi komentar atas kondisi politik terkini, tapi karena komik ini telah menjadi arena perebutan kuasa dan dominasi.

Sebenarnya tanpa ada internet sekalipun, perdebatan dan kontestasi makna ini tetap bisa terjadi. Hanya saja, kehadiran internet membuat perdebatan dan kontestasi dapat berlangsung secara besar-besaran, alot, dan terbuka.

Jika melihat sejarah komik yang kerap diremehkan dan direndahkan, sulit bagi kita untuk membayangkan terjadinya perdebatan dan kontestasi makna yang terbuka atas suatu komik di surat kabar atau televisi. Perdebatan terbuka seperti ini hanya dimungkinkan melalui media baru yang “lebih demokratis”, ketika semua orang bisa menyuarakan pendapat atas hal-hal remeh, tidak penting, dan sepele, seperti menginterpretasi makna komik Tahilalats.

Kehadiran internet telah mendorong lahirnya perdebatan dan kontestasi makna komik ke tingkat lebih lanjut, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. (*)


[1] Hall, Stuart. (1980). “Encoding/Decoding”. Dalam S. Hall, D. Hobson, A. Lowe & P. Willis (eds). Culture, Media, Language: Working Papers in Cultural Studies, 1972-79. London: Hutchinson, hlm. 128-138.

[2] Ritzer, George. (2014). “Prosumption: Evolution, Revolution, or Eternal Return of the Same?”, Journal of Consumer Culture, Volume 14(1): 3-24.

[3] Budiawan. (2015). “Budaya Sebagai Medan Pertarungan Kuasa”. Dalam Budiawan (ed). Media [Baru], Tubuh, dan Ruang Publik: Esesi-esei Kajian Budaya dan Media. Yogyakarta: Jalasutra.

Abdul Hair

Abdul Hair. Peneliti di Lingkar Studi Media dan Kebudayaan (Lisan).