Ragam Cermin Tafsir dalam The Mirror Never Lies

oleh Shadia Pradsmadji

27 Maret 2018 Durasi: 4 Menit
Ragam Cermin Tafsir dalam The Mirror Never Lies Buku ini disebut Kamila Andini sebagai pertanggungjawabannya selaku sutradara. (Image: Treewater & Rumah Sinema)

“Laut itu kejam, Pakis. Apa pun bisa terjadi sama bapakmu!”

Kalimat itu merupakan cuplikan dialog Tayung (Atiqah Hasiholan) kepada Pakis (Gita Novalista), putri semata wayangnya, dari film Laut Bercermin atau The Mirror Never Lies (2011) arahan sutradara Kamila Andini. Kedua karakter perempuan Suku Bajo yang hidup di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara tersebut adalah fokus dalam film yang didukung oleh WWF Indonesia dan Pemda Kabupaten Wakatobi ini.

Rumah tangga mereka tidak sempurna. Ayah Pakis, yang juga suami Tayung, suatu hari pergi melaut dan tidak pernah kembali. Pakis teguh meyakini bahwa sang ayah hanya hilang, dan karena itu ia selalu memegang harapan melalui cermin pemberian ayahnya. Pakis menggunakan cermin tersebut untuk mencari keberadaan sang ayah dengan bantuan dukun. Lain ceritanya dengan Tayung. Ia menerima kemungkinan bahwa suaminya meninggal di laut. Maka, Tayung memakai bedak dingin di wajahnya, yang diasumsikan—karena tidak dijelaskan dalam film—sebagai simbol seorang perempuan Bajo yang menjanda atau ditinggal suami. Perbedaan keyakinan ini menimbulkan konflik di antara Pakis dan Tayung. Masalah menjadi kian rumit ketika Tudo (Reza Rahadian), peneliti lumba-lumba dari Jakarta, datang dan menumpang tinggal di rumah mereka.

Dari cuplikan cerita di atas jelaslah The Mirror Never Lies mengangkat kisah ibu dan anak dengan latar kehidupan di laut. Namun, buku Laut Bercermin (The Mirror Never Lies): Sebuah Catatan & Tafsir Film yang diterbitkan pada 2016 membingkai film The Mirror Never Lies dari berbagai perspektif. Buku ini seakan hendak menyatakan bahwa boleh saja kita sama-sama menonton The Mirror Never Lies, tapi cara kita menafsirkan apa yang ada di dalam film tersebut juga bisa jauh berbeda.  

Buku yang disunting oleh Dyna Herlina dan Kamila Andini ini merupakan kumpulan tulisan. Dibuka dengan tulisan pengantar Dyna, buku ini memuat esai-esai karya enam peneliti, seperti Yvonne Michalik, IGAK Satrya Wibawa, Irham Nur Anshari, Wisnu Wijayanto Anwar, Indah Wenerda, dan Novi Kurnia. Walau bahasan seluruh esai ini berdiri sendiri-sendiri, tapi begitu dikompilasi menjadi satu buku, akhirnya terlihat benang merah dan sifat tiap esai yang saling melengkapi.

Buku ini juga membahas soal aktualisasi perempuan di ranah domestik dalam film The Mirror Never Lies. (Image: Treewater Productions & Rumah Sinema)

Misalnya pembahasan Yvonne Michalik soal simbol dan ruang sebagai perangkat filmis film ini. The Mirror Never Lies memang bertumpu pada cermin sebagai objek utama yang turut menggerakkan alur cerita. Namun, Michalik membahas fungsi cermin tersebut lebih jauh lagi, seperti melihat pengaruh cermin pemberian ayah Pakis terhadap hubungan karakter Pakis dan Tayung serta cara mereka mencitrakan diri masing-masing melalui cermin tersebut, hingga menjadikan objek tersebut sebagai bukti atas keperempuanan Pakis dan Tayung. Meskipun pada beberapa bagian tulisan Michalik terkesan terlalu asumtif tanpa didukung argumen yang kuat sehingga terlalu cepat disimpulkan, tapi sudut pandangnya memberikan tafsir yang segar terhadap The Mirror Never Lies, yakni tentang bagaimana cermin dalam film tersebut turut berperan dalam mendewasakan karakternya.

Berbicara topik perempuan, Indah Wenerda dan Novi Kurnia juga membahasnya dari sudut pandang masing-masing. Indah membahas soal aktualisasi perempuan dalam ranah domestik yang ditampilkan dalam The Mirror Never Lies, seperti yang terwakili oleh karakter Tayung. Kehilangan suami membuat ia harus menjadi tulang punggung keluarga sekaligus menjalani tugas sebagai ibu rumah tangga, seperti memasak sampai merawat kebersihan tubuh Pakis dan dirinya sendiri. Pakis dan Tayung juga senang becermin, yang Indah tuliskan sebagai “kegiatan awal dalam upaya mendefinisikan bahwa ‘saya cantik’” (halaman 152).

Sementara Novi mengulik topik perempuan ini secara apik dengan fokus pada sang sutradara. Ia membahas keberadaan sutradara perempuan di Indonesia, mulai dari sedikitnya jumlah sutradara pada era Orde Baru yang memengaruhi representasi perempuan dalam film, hingga dampak era Reformasi terhadap kultur produksi film Indonesia sehingga menjadi lebih ramah bagi perempuan. Novi juga membahas tentang personalitas perempuan yang memengaruhi interpretasi adegan dalam film dan karakter filmnya. Pandangan sutradara laki-laki dan perempuan pasti akan berbeda, sehingga “tidak ada perbedaan antara sutradara perempuan dan laki-laki secara profesional namun tidak secara personal” (halaman 175).

Representasi masyarakat dalam film ini juga diulas dengan mendalam oleh IGAK Satrya Wibawa yang melihatnya dari sisi keindonesiaan serta Irham Nur Anshari yang membahas tentang pendatang dan representasi lokal. Bagi Satrya, The Mirror Never Lies menampilkan sudut pandang alternatif tentang “anak Indonesia” yang berbeda dengan konstruksi media yang telah ada sebelumnya. Latar kehidupan anak-anak di laut seperti melawan citra tentang kehidupan yang berpusat di daratan serta dataran yang penuh gedung sebagai penanda modernitas di Indonesia, walaupun sebenarnya Indonesia adalah negara maritim. Soal relasi pusat dan daerah juga disinggung Satrya dengan melihat citra Jakarta sebagai pusat modernitas. Seperti yang ia tulis, “Film ini memunculkan ironi sekaligus merepresentasikan isu klasik mengenai persepsi Jakarta dan non-Jakarta” (halaman 56-57).

Relasi pusat-daerah juga jadi amatan Irham Nur Anshari. Ia menulis bahwa The Mirror Never Lies adalah salah satu film pasca Orde Baru yang berlatar di luar Jawa (setelah Orde Baru tumbang, film-film yang berlatar di luar Jawa memang lebih banyak diproduksi). Dalam film ini, kedatangan Tudo sebagai peneliti lumba-lumba di Wakatobi berperan sebagai penggagas dan penggerak pelestarian lingkungan di sana. Kehadiran Tudo dilihat Irham sebagai “adanya dominasi pengetahuan dari si pendatang ke yang lokal” (halaman 78), yang terkait dengan pembahasan Satrya tentang Jakarta sebagai pusat seakan-akan lebih superior dibanding daerah lain.

Wacana soal pelestarian lingkungan dan laut juga dianalisa oleh Wisnu Wijayanto Anwar lewat esainya tentang menumbuhkan kecintaan laut pada anak. Misalnya karakter Pakis yang teguh menjalankan pesan ayahnya untuk tidak mengambil ikan-ikan kecil di laut agar bisa tumbuh besar secara tidak langsung sudah menjalankan nilai pelestarian lingkungan. Ia juga mencontohkan perilaku hidup anak-anak Bajo yang dekat dengan alam laut, seperti pergi ke sekolah menggunakan perahu. Sayangnya, pembahasan tentang laut menjadi agak sedikit terbengkalai, karena Wisnu juga banyak membahas subtema lain, seperti klasifikasi usia penonton film yang mencakup hampir dua halaman sendiri.

Selain esai, buku ini juga memuat ulasan film The Mirror Never Lies dari berbagai media populer; serta catatan produksi dan pascaproduksi Kamila Andini yang bersifat personal, sehingga pembaca bisa ikut membayangkan kesulitan proses syuting di Wakatobi selama tiga minggu. Ada pula wawancara Prima Rusdi dengan Kamila terkait film ini setelah tahun kelima rilisnya. Wawancara tersebut memperluas cakupan pembahasan produksi film ini karena dipandu oleh filmmaker yang posisinya netral lantaran tidak terlibat produksinya.

The Mirror Never Lies menawarkan perspektif alternatif tentang anak Indonesia. (Image: Treewater Productions & Rumah Sinema)

Buku ini tak lupa menuturkan cerita tentang menembus tantangan-tantangan alam yang berada di luar kendali tim produksi. Mulai dari badai yang membuat sutradara terpisah dari kru lainnya, sampai casting ulang untuk mencari pemeran Pakis dan Lumo karena syuting yang molor hingga setahun akibat keterbatasan dana. Ada pula catatan singkat yang personal dari Garin Nugroho mengenai proses pembuatan film The Mirror Never Lies dengan menggabungkan sudut pandang seorang produser dan juga sebagai ayah.

Buku Laut Bercermin (The Mirror Never Lies): Sebuah Catatan & Tafsir Film pada akhirnya bisa menjadi penting untuk dibaca oleh para sutradara pemula guna memberikan kesadaran tentang beragamnya cara menginterpretasi sebuah film, sehingga penonton bisa saja menangkap maksud-maksud tertentu di luar pemikiran sutradara. Sementara bagi penonton, buku ini cocok menjadi pendamping untuk bisa memaknai film The Mirror Never Lies secara menyeluruh dan melampaui sajian visual dalam filmnya.

Terlepas dari pelbagai kekurangan secara teknis, antara lain salah ketik, pengulangan halaman yang bisa membingungkan pembaca, dan kesalahan penulisan nama karakter utama, tapi buku ini tetap mampu memberikan nilai-nilai baru yang semakin memperkaya The Mirror Never Lies.(*)


 

Laut Bercermin (The Mirror Never Lies): Sebuah Catatan & Tafsir Film
Dyna Herlina dan Kamila Andini (ed)
Treewater Productions dan Rumah Sinema
Desember 2016

Shadia Pradsmadji

Lahir dan besar di Jakarta. Mulai menyukai film sejak SMP. Saat ini turut membantu Cinema Poetica bidang media sosial.