Blokir Tumblr Bukan Jalan Keluar

oleh Morra Quatro

29 Maret 2018 Durasi: 5 Menit
Blokir Tumblr Bukan Jalan Keluar Problem asusila dan pornografi tak akan lenyap hanya dengan menutup platform ini. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

6 Maret 2018, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika secara resmi memblokir penggunaan situs Tumblr di Indonesia. Menurut Dirjen Aplikasi Informatika Samuel A. Pangerapan, penutupan ini didasari aduan masyarakat akan adanya konten asusila dan pornografi dalam situs Tumblr.

Tim analisis kementerian telah menemukan lebih dari 360 akun dalam Tumblr dengan muatan pornografi. Tumblr tidak memiliki fitur untuk melaporkan akun-akun tersebut agar ditutup oleh server begitu mencapai jumlah pelapor yang cukup.

Kemkominfo kemudian mengirim surat kepada pihak Tumblr untuk membersihkan laman mereka dari muatan tersebut dalam waktu 2 × 24 jam. Namun, dalam kurun waktu ini, tidak diterima respons dari pihak Tumblr. Dengan demikian, platform tersebut pun resmi ditutup.

“Indonesia adalah negara terbuka. Orang-orang dan start-up asing kita beri kesempatan untuk membuka bisnis di sini, tapi harus sopan, harus ikut peraturan kita,” ujar Samuel. “Kalau ada tamu di rumah kita hanya pakai celana dalam saja, masa kita biarkan. Jadi, selama tidak ada respons dari pihak Tumblr, sorry to say, untuk sementara ya gunakan platform yang lain dulu.”

Kurun waktu “sementara” dalam penuturan ini tidak mengacu kepada jumlah waktu tertentu. Bisa saja selamanya, selama tidak ada respons dari pihak Tumblr. Itu berarti bahwa jalinan kerjasama yang telah dibangun antar dan oleh para pengguna Tumblr selama bertahun-tahun telah berakhir dalam dalam satu hari, pada hari pemblokiran.
 

Pemanfaatan Tumblr

Tumblr pertama kali diluncurkan pada 2007, dan segera populer di Indonesia dalam waktu kurang dari tiga tahun. Sejak itu, pengguna Tumblr di Indonesia memanfaatkan platform ini untuk mengumpulkan jaringan kerja sama branding, promosi, dan lain-lain.

Protes dari warganet pun segera mengikuti pemblokiran ini, karena hasil kerja keras mereka lewat Tumblr tidak datang hanya dalam waktu satu atau dua hari. Platform ini dikenal sebagai halaman yang banyak memberi ruang bagi para pekerja seni kreatif.

Sebagian besar pengguna memanfaatkannya untuk mengunggah produk seni dan kreatifitas, baik visual maupun verbal, ke dunia maya. Produk-produk ini berupa video, foto, GIF, ilustrasi, karikatur, lukisan, puisi, kutipan, cerita dan tulisan, termasuk karya fiksi populer dan bahkan musik.

Tidak hanya sebagai tempat mengekspresikan diri, lewat Tumblr ribuan pekerja seni kreatif di Indonesia juga mendapat kesempatan untuk menjual produk dan menampilkan diri mereka di hadapan audiens dengan jangkauan internasional.

Platform Tumblr menggunakan algoritma pengikutan, di mana pengguna diikuti dan mengikuti akun-akun yang mereka pilih. Unggahan populer juga biasa ditampilkan di halaman depan, yang disebut dashboard, yang dapat dilihat oleh seluruh pengguna Tumblr di seluruh dunia.

Dengan pemblokiran ini, pengguna Tumblr di Indonesia kehilangan tempat berdagang sehari-hari, ‘lapak’ yang sudah dikenal oleh konsumen masing-masing. Dengan menggunakan platform lain yang baru, mereka harus membangun segalanya dari awal lagi.
 

Perlukah Diblokir?

Polemik yang berkenaan dengan konten pornografi seperti Tumblr bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Sebelumnya, pemerintah memblokir ratusan situs yang mengandung muatan pornografi, bahkan akun-akun di media sosial yang memiliki kecenderungan serupa.

Keresahan ini dapat dimengerti. Internet—media sosial dan lainnya—dapat diakses oleh pengguna segala usia. Konten asusila dan pornografi dikhawatirkan akan mampu mendorong atau "menginspirasi" dalam tindak asusila dan kejahatan seksual. Kita tak ingin hal tersebut menjadi normal di tengah masyarakat.

Pertanyaannya, sejauh apa kita mampu memblokir arus pornografi yang beredar di dunia maya?

Merespons ditutupnya Tumblr, seorang warganet di Twitter menulis bahwa pada setiap situs internet yang memberi ruang bagi penggunanya untuk mengunggah konten dalam bentuk foto atau video, pornografi akan selalu ada. Dengan bantuan pengguna, akun-akun ini dapat dilaporkan dan untuk kemudian ditutup.

Sayangnya, konten-konten tersebut akan bermunculan kembali. Bahkan, mungkin dalam jumlah yang lebih banyak, sebagai upaya untuk menunjukkan resistensi atas pemblokiran yang dianggap sewenang-wenang. Resistensi ini mampu mengundang ketertarikan lebih banyak pengguna internet.

Maka, siklus yang sama akan terus berputar bagai lingkaran setan. Konten-konten pornografi muncul dan ditutup, kemudian muncul lebih banyak lagi dan ditutup lagi. Pemerintah menghabiskan upaya dan dana yang besar untuk perputaran ini.
 

Pembenaran yang Keliru

Lebih jauh lagi, sikap pemblokiran atau penutupan semacam ini seolah memberikan pembenaran dari anggapan bahwa tindak asusila dan kejahatan seksual dalam masyarakat terjadi karena pengaruh pornografi. Sikap ini merupakan upaya penolakan pengaruh luar, dengan anggapan bahwa tanpa pengaruh tersebut, kita akan bersih, sehat, dan baik-baik saja.

Bila dianggap benar, maka sikap ini akan terus melekat untuk kemudian menjadi pola pikir yang mengakibatkan persoalan-persoalan baru yang lebih besar. Di antaranya, kita menjadi terbiasa melimpahkan tanggung jawab pada pihak di luar diri kita bila sesuatu yang tidak benar terjadi.

Beberapa contoh sudah terlihat di tengah masyarakat. Banyak kasus pemerkosaan yang masih dianggap merupakan tanggung jawab dan kesalahan korban. Karena korban mengenakan pakaian yang terbuka; karena korban berada di tempat sepi sendirian. Solusinya, jangan mengenakan pakaian yang terbuka dan jangan berada di tempat sepi sendirian.

Masyarakat kita semakin memaklumi dan terbiasa dengan jalan keluar-jalan keluar yang keliru. Karena itu praktis, mudah, dan biasa, ketimbang mengemban tanggung jawab untuk memperbaiki diri sendiri. Ketimbang mendidik masyarakat untuk menghormati privasi serta "consent" dalam hubungan seksual.

Kita pun lebih suka mencegah beredarnya pornografi, dibandingkan mengerahkan upaya yang lebih besar bagi pendidikan seks yang memadai, dan pemahaman akan "consent".
 

Kembalikan Tumblr!

Padahal, ada banyak keuntungan yang dapat diraih bila kita berani menerima dan mengemban tanggung jawab-tanggung jawab itu. Kita akan melihat kenyataan bahwa dunia memang tak selalu sehat dan bersih, menyisakan ruang untuk menanggung beban ini, kemudian belajar membangun hal-hal dengan kapasitas yang cukup untuk mampu mengimbanginya.

Dengan demikian, energi dan titik berat masyarakat bahkan dapat beralih dan terfokus kepada hal-hal lain yang lebih berarti. Kepada membangun minat, kerjasama, dan menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi.

Saya telah menggunakan platform Tumblr selama tujuh tahun sebagai blog. Di halaman www.morraquatro.tumblr.com, saya mengirimkan puluhan puisi, dan fiksi populer berupa cerita-cerita dan tulisan, serta ilustrasi novel yang saya gambar sendiri.

Saya telah menerbitkan lima novel lewat salah satu penerbit terbesar di Indonesia, dan saya mempromosikan buku-buku saya lewat halaman itu. Saya juga menulis side-story, sequel, atau kisah lanjutan dari buku-buku yang telah terbit.

Saya dapat menggunakan platform yang lain saat ini, tapi butuh waktu lama untuk mengumpulkan subscriber lagi—para pembaca yang menanti karya-karya saya.

Dan saya bukan satu-satunya.

Saya yakin, dibandingkan pengguna Tumblr yang memanfaatkan situs itu sebagai sumber pornografi, jumlah penulis dan seniman di dalamnya jauh lebih banyak. Karya-karya mereka, di masa mendatang mungkin saja menjadi kebanggaan dan dapat mengharumkan nama bangsa.

Yang mereka butuhkan hanyalah ruang seluas-luasnya untuk mengekspresikan diri. Karena saya percaya, bahwa selama orang membangun minat dan fokus kepada passion mereka, mereka pasti akan menjadi orang baik.

Saya yakin itu. (*)

Morra Quatro

Morra Quatro. Menyukai dunia kepenulisan sejak remaja dan telah menulis lima novel. Karya pertamanya, "Forgiven", masuk nominasi Anugerah Pembaca Indonesia sebagai novel terfavorit 2011.