Dewi Noviami: Perempuan di Balik Layar

oleh Wa Ode Wulan Ratna

31 Maret 2018 Durasi: 8 Menit
Dewi Noviami: Perempuan di Balik Layar Kebahagian adalah membantu mewujudkan kebahagiaan orang lain. (Foto: Joshua Irwandi)

Keberhasilan mencapai sesuatu tentu tidak terlepas dari tangan-tangan dan kerja keras orang lain. Meskipun perannya sangat kecil, bisa saja ia jadi kunci sebuah episode penting dalam hidup kita. Setidaknya itulah yang saya tangkap dari Dewi Noviami, sosok perempuan pekerja keras yang mencurahkan banyak tenaga dan pikiran untuk terwujudnya suatu impian.

Tubuhnya yang tinggi besar dengan kulit eksotis dan rambut panjang bergelombang memberikan kesan betapa tegas dan tangkasnya ia dalam bekerja. Ditemui di Lontar Foundation, Mbak Novi, begitu sapaan akrabnya, terlambat datang. Ia harus menghadiri rapat penting terkait dengan formulir pendaftaran residensi, sebuah program yang telah berjalan dua tahun dan baru dibuka kembali untuk ketiga kalinya oleh Komite Buku Nasional tahun ini.

“Ya nih, saya sedang bergembira, karena Program Residensi Penulis yang baru berjalan dua tahun ini, tahun 2018 ini dibuka untuk dua destinasi, dalam dan luar negeri. Kalau pada 2016 dan 2017 dibuka hanya untuk tujuan ke luar negeri, tahun ini, Kemendikbud setuju untuk juga mendanai residensi dalam negeri. Nah, barusan rapat dulu soal administrasinya, formulir apa yang dipakai, begitulah”, ujar perempuan kelahiran Bandung, 20 November 1966 penuh semangat.

Setelah menjadi anggota Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta selama dua periode (2010-2016), perempuan yang penuh semangat dan optimisme dalam bekerja ini mencurahkan tenaga dan potensinya di Komite Buku Nasional (KBN) dan setahun terakhir juga di Lontar Foundation. Ia tidak menyangka perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku telah membawanya kepada buku-buku.

Saya tidak menyangka bidang yang saya geluti memengaruhi hampir seluruh hidup saya. (Foto: Joshua Irwandi)
Saya tidak menyangka bidang yang saya geluti memengaruhi hampir seluruh hidup saya. (Foto: Joshua Irwandi)

Anak kedua dari tujuh bersaudara ini dilahirkan di Bandung dari keluarga yang tipikal menikah di tahun 60-an. Ayahnya, Abubakar, adalah seorang tentara dan ibunya, Sich Umi, seorang perawat. “Bapak saya selalu suka ensiklopedi. Di rumah saya selalu ada Enslikopedi Americana,” kenangnya. Ia pun mengingat-ingat kembali pertemuannya dengan buku-buku di masa lalunya. Pamannya yang bekerja di Kompas selalu membawakannya banyak sekali buku cerita anak, Grimm Bersaudara, Komik Gina, Timun Emas dan dongeng-dongeng lainnya, cerita-cerita wayang, sampai yang paling melekat diingatannya: Yonas yang Setia.

Menginjak remaja ada sebuah taman bacaan berbayar yang sering ia kunjungi. Di tempat itu ia menemukan lebih beragam lagi jenis buku yang bisa dipinjam. “Di situ saya berkenalan dengan berbagai komik Indonesia, mulai dari komik wayang RA Kosasih, sampai Gina karya Gerdi WK. Saya beberapa kali membaca Musashi, bahkan ketika masih dimuat sebagai cerita bersambung di koran. Buku-buku Mira W, bahkan Barbara Cartland, baca juga dong." Hal yang ia ingat juga adalah buku Di Bawah Bendera Revolusi, semacam buku wajib yang dibaca ayahnya yang tentara di masa revolusi Indonesia. Dalam masa pertumbuhan menuju dewasa, ia juga membaca buku Pramoedya Ananta Toer. Tentu saja, pada masa itu, ia membacanya dengan sembunyi-sembunyi.

Baru ketika kuliah di Universitas Padjadjaran tahun 1985, ia mulai membaca banyak karya sastra seperti karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang yang sampai kini masih menjadi favoritnya, juga karya-karya yang berjaya pada masa itu. Karya luar yang tidak bisa ia lupakan salah satunya adalah Perempuan di Titik Nol karya Nawal El-Saadawi. Tidak ketinggalan karya-karya penulis Jerman juga dilahapnya lantaran ia berkuliah di Jurusan Sastra Jerman.

Namun sungguh ia tak menyangka kalau bidang yang ia geluti di bangku kuliah itu ternyata sangat memengaruhi hampir seluruh hidupnya. Dalam masa kuliahnya ia sempat mengambil cuti untuk tinggal di Jerman, mengikuti Au-pair-Programme di Tübingen selama satu tahun. Semacam program beasiswa yang mewajibkannya tinggal di sebuah keluarga dan mengasuh anak dari keluarga tersebut. Seperti baby sitter tetapi ia mendapat kesempatan mengikuti kursus bahasa Jerman dan menjadi mahasiswa tamu di Universitas Tuebingen. Di kota di selatan Jerman sanalah juga ia mengikuti kursus teater.

Selama itu pula ia mulai tertarik di dunia penerjemahan karya. Penyuka warna merah dan hitam ini telah sering menerjemahkan puisi-puisi dan cerita-cerita pendek penulis Jerman. Bahkan skripsinya mengangkat persoalan terjemahan karya penulis Jerman, Bertolt Brecht, berjudul Masalah dalam Proses Penerjemahan “Keunergeschichten” Karya Bertolt Brecht dengan Tinjauan Khusus pada Pengasingan Kata dan Idiom dalam Lima Cerita “Keunergeschichten”. Skripsinya ini kemudian diterbitkan oleh Balai Pustaka. Berjalan dengan itu, ia juga berkenalan dengan Budi S. Otong dari Teater Sae. Ia diminta untuk menerjemahkan drama Hamletmaschine karya Heiner Müller. Budi S. Otong kemudian memasukkan terjemahan itu ke Majalah Sastra Horison.

Tidak sampai di situ, setelah selesai kuliah pada 1994, ia mulai bekerja di German Academic Exchange Service atau Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD) sebagai Asisten Program. Karena hal itu pula ia berkesempatan kembali tinggal di Jerman selama hampir lima tahun untuk mengajar penerjemahan dan Bahasa Indonesia di Universitas Bonn. Pulang dari Jerman tahun 2000 ia mengalami kegagapan karena harus memulai semuanya dari nol. Selama hampir tiga tahun dia menjadi kontributor untuk berita-berita budaya di Radio Deutsche Welle.

Dalam masa itu, seorang sutrada teater, Wawan Sofwan, memintanya menjadi Asisten Dramaturg dalam produksi teater Faust karya Johann Wolfgang von Goethe  yang dipentaskan di gedung teater Goethe Institut. “Di situ saya membantu produksinya Wawan Sofwan dari Mainteater. Kita pentas ke beberapa kota sampai puncaknya di Jakarta, di GoetheHaus, yang waktu itu baru selesai dibangun.” Setelah produksi “Faust”, ia mengerjakan beberapa program Goethe Institut Jakarta dan akhirnya menjadi manager Goethehaus selama tujuh tahun.

Saat masih bekerja di DKJ, pada 2014 ia dipanggil lagi oleh Goethe untuk membantu persiapan Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Bookfair di Jerman dan menyelenggarakan beberapa sesi Sharing Session serta workshop marketing internasional bagi penerbit Indonesia.baru pada 2015, dia bergabung dalam kepanitiaan Komite Nasional yang dikepalai Goenawan Mohamad di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Dari situ saya banyak belajar. Ini ilmu baru buat saya, bagaimana menyiapkan keterlibatan dalam sebuah pameran buku internasional dan bekerja dalam tim yang begitu besar."

"Tahun 2015 itu menjadi satu titik penting dalam hidup saya. Saya bukan orang yang takut untuk bekerja keras, tapi serius, saya belum pernah bekerja sekeras itu dalam hidup saya."

Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair memberi kesan yang mendalam. Bayangkan saja kepanitian yang sangat besar dibentuk, dengan persiapan yang sangat luar biasa untuk memperkenalkan perbukuan Indonesia di dunia. Ini suatu kesempatan yang tidak boleh dilewati Indonesia. “Dan saya sangat puas karena sampai sekarang Indonesia masih disebut-sebut karena sukses sebagai Guest of Honour. Artinya kita sudah lumayan dilirik sebagai warga dunia dalam hal perbukuan.” Karena kesempatan yang telah terbuka inilah, kemudian Goenawan Mohammad dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu, membicarakan rencana selanjutnya, hingga akhirnya dibentuklah Komite Buku Nasional yang dikepalai oleh Laura Bangun Prinsloo, dengan tugas utama mempromosikan kekayaan literasi Indonesia. Di Komite Buku Nasional ini, ia menjadi koordinator Literary Funding Program, yang salah satu programnya adalah Residensi Penulis.

Tak apa perempuan mencintai pekerjaannya, hidup memiliki sistemnya sendiri. (Foto: Joshua Irwandi)
Tak apa perempuan mencintai pekerjaannya, hidup memiliki sistemnya sendiri. (Foto: Joshua Irwandi)

Keberhasilan Frankfurt Book Fair telah menjadi model bagi negara untuk mendukung kehidupan perbukuan dan kesusastraan. Setelah itu, Indonesia pada 2019 direncanakan menjadi Market Focus Country di London Book Fair. “Sangat bagus kalau Indonesia selalu ada di setiap event besar buku-buku dan kebudayaan dunia. Itu dapat menjadi suatu promosi yang bagus agar karya-karya Indonesia semakin dikenal.”

Residensi Penulis yang didukung pendanaannya oleh Beasiswa Unggulan – Kemendikbud ini awalnya memang untuk memberi kesempatan kepada penulis semua genre untuk menulis, melakukan riset, yang pada akhirnya akan juga mempromosikan perbukuan Indonesia. “Awalnya, kami memang melakukan berbagai rapat dan membuat konsep kegiatan yang bisa mendukung dan mempromosikan buku-buku Indonesia. Saat itu kami membuat matriks apa saja yang dilakukan negara-negara lain untuk mempromosikan buku-bukunya, sampai akhirnya terbentuklah Komite Buku Nasional yang seperti sekarang ini.” Hampir setiap negara sudah mempunyai struktur yang menunjang promosi dan kehidupan perbukuan di negaranya. Satu hal yang tidak dimiliki dari negara kita yang konsen dalam perbukuan adalah adanya literary agen. Program residensi sendiri sebagaimana beasiswa sudah lazim diberikan di banyak negara. “Ini kemudian yang menjadi contoh untuk kami, bagaimana penulis Indonesia juga bisa menjadi bagian dari warga buku dunia. Memberi kesempatan mereka untuk menulis sekaligus terlibat dalam banyak acara dan festival buku. Yang paling penting adalah berjejaring,” tukasnya mendeskripsikan pekerjaannya.

Ia juga menjelaskan bahwa program residensi ini tergantung dari proposal penulisnya, “Kalau penulisnya cuma ingin menulis saja, silakan. Tapi kalau ada yang mau sambil riset boleh juga.Tempat yang dipilih penulis, biasanya karena kebutuhan itu.” Ia juga menekankan kalau program ini bukan program yang diatur secara ketat, tidak ada penjemputan oleh panitia tertentu atau dibuatkan program yang sudah disusun rapi. Program ini seperti beasiswa, penulis memilih tinggal di suatu kota atau negara sesuai dengan rencana kerja dalam proposal kerjanya. Dana residensi sendiri didapat dari Kemendikbud dengan Biro Kerjasama Luar Negeri yang mempunyai program Beasiswa Unggulan. Jadi dana yang diberikan kepada penulis memang harus dikelola dengan berhemat-hemat.

Penyuka karya-karya Bertolt Brecht ini lalu menceritakan pengalamannya saat pertama kali mengurus Residensi Penulis pada 2016 lalu. “Itu residensi pertama. Ada sembilan orang yang dikirim karena memang dananya hanya cukup untuk sembilan orang. Tapi itu saya sendiri yang mengerjakannya. Bisa bayangkan, itu pengalaman pertama saya yang sangat luar biasa harus memastikan sembilan orang yang tersebar ke berbagai negara itu baik-baik saja.”

Pada 2017, karena jumlah bertambah menjadi 21 orang, ia sangat terbantu oleh rekan-rekan kerjanya di KBN. “Ya, jumlah segitu saya tidak sanggup menangani seorang diri.Tapi ini kerja yang benar-benar hebat dan benar-benar keras. Ini pertama kalinya kita seperti ini. Saya pikir ini sebuah terobosan.

Perbedaan dengan tahun 2018 ini program residensi dari KBN juga dibuka untuk wilayah dalam negeri. “Tahun lalu ada banyak masukkan yang cukup keras yang mengatakan kalau program residensi ke luar negeri itu hanya menghambur-hamburkan uang, dan bahwa lebih penting adanya residensi di dalam negeri. Ketika hal ini disampaikan kepada Kemendikbud, reaksi mereka bagus ya. Daripada menghapus program yang sudah berjalan baik, malah diperbolehkan menambah program baru: residensi dalam negeri.” Ia mengakui, untuk program Residensi Penulis di dalam negeri ini, masukkan dari masyarakat dan berbagai kalangan sangat dibutuhkan karena ini kali pertama residensi di dalam negeri dilaksanakan. Walaupun persyaratannya sama, yakni harus ada institusi, pengundang, dan proposal, tetapi tantangan yang dihadapi pasti berbeda. Terutama bagaimana berjejaring dan terlibat dalam literasi di universitas atau sekolah-sekolah. “Kita masih memikirkan sih, bagaimana penulis bisa membangun diskusi terutama di pelosok-pelosok daerah yang mungkin tidak mengenal mereka. Ini tantangan tersendiri.”

Bagi yang mengenal sosok Dewi Noviami pasti menyadari bahwa sebagai seorang perempuan, ia adalah sosok yang sangat perfeksionis dalam bekerja. Pekerja keras yang tidak mudah puas dan selalu memikirkan peluang-peluang yang bisa dilakukan. Hal ini tidak terlepas dari didikkan sang ayah yang seorang tentara. Di rumah masa kecilnya, segala sesuatu harus bisa ia lakukan sendiri. Jika ia diserang seorang teman saat bermain, sang ayah selalu mengajarinya untuk melawan balik.

Sebagai seorang perempuan yang tidak mengandalkan orang lain, ia harus mampu membela dirinya sendiri.

Pengalamannya jauh dari orangtua selama di luar negeri juga mengajarkannya banyak hal tentang kehidupan. Begitu banyak hal-hal sulit yang ia lalui seperti kekurangan uang, pekerjaan, dan pengambilan keputusan penting dalam hidupnya.

“Saya ingat ayah saya berkata, “Bapak percaya kamu bisa mandiri.” Kata-kata itu meskipun kecil tapi itu berarti besar bagi saya karena berasal dari orang yang saya sayangi.” Ia mengenang satu keputusan penting dalam hidupnya yang harus ia ambil. Menurutnya ketika seseorang mengalami keterpurukan dan harus mengambil suatu keputusan, hal utama yang meresahkan hati adalah takut mengecewakan orang-orang di sekelilingnya, terutama orangtua. “Tapi ketika ayah saya percaya pada saya, saya jadi semakin yakin dengan keputusan saya.” Keluarga menjadi satu-satunya rumah yang bisa menerimanya kembali apa adanya. Mendukung pekerjaan dan perjuangannya hidup seorang diri setelah bercerai bukanlah suatu hal yang mudah bagi siapa saja. Kini ketika kedua orangtuanya telah tiada, ia masih memiliki saudara dan kawan-kawan terdekat yang bisa memahami dirinya.

Menjadi bagian dari keberhasilan orang lain adalah suatu kebahagiaan. (Foto: Joshua Irwandi)
Menjadi bagian dari keberhasilan orang lain adalah suatu kebahagiaan. (Foto: Joshua Irwandi)

“Saat ini saya sedang cinta pada pekerjaan,” ujarnya senang. “Tapi rasanya lucu juga ya, saya mengerjakan pekerjaan untuk mensupport orang lain sementara saya juga masih butuh disupport,” lanjut perempuan yang sedang membaca novel Kejatuhan dan Hati karya S. Rukiah Kertapati di tengah-tengah kesibukannya. Ia berpikir setiap perempuan memang akan mencari fungsinya sendiri, baik di dalam pekerjaan yang menghasilkan uang ataupun yang tidak menghasilkan uang. Tidak ada masalah dengan perempuan yang mencintai pekerjaannya. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dalam hidup ini karena ia memiliki sistemnya sendiri.

Ia menemukan banyak hal yang membahagiakan dirinya di tengah pekerjaan dan kemandiriannya. Kebahagiaan itu terutama sangat dirasakannya ketika pekerjaannya membuahkan hasil yang bisa dirasakan pula oleh orang lain. Banyak orang tidak terlalu memerhatikan siapa dan apa yang telah dilakukan di balik sebuah pekerjaan. Pekerjaannya sendiri memang bukan pekerjaan yang menjadi sorotan, bukan pekerjaan menjadi bintang. Tapi ia merasa bangga dan bahagia ketika melihat murid-murid yang dulu diajarnya di Universitas Bonn sekarang menjadi sukses. Atau setidaknya bisa berbahasa Indonesia dengan benar. “Wah itu rasanya..., meskipun yang saya ajarkan tidak banyak tapi itu memberi efek.”

Sama halnya ketika naskah drama yang diterjemahkannya dimainkan dengan baik oleh para penggiat teater. Maka demikian juga dengan residensi. “Tapi itu bukan karena saya seorang. Dalam program itu ada banyak sekali yang terlibat. Tapi ya begitu, saya senang sekali kalau lihat buku dari peserta residensi sudah jadi. Ini hasil dari pekerjaan ini, lho!” Bisa membantu, mendukung, atau turut menjadi bagian kecil dalam proses perjalanan seseorang mencapai impian atau keberhasilan merupakan kebahagiaan yang tiada tara.

Kini Dewi Noviami juga bekerja di Lontar Foundatuion sebagai Program Officer yang mengurus segala persoalan menyangkut ulang tahun Lontar yang ketiga puluh. Tampaknya hidupnya kini tidak bisa jauh dari buku-buku. Semangatnya menggebu agar buku-buku Indonesia, terutama dalam hal ini sastra, dapat diterima di masyarakat luas dan internasional. “Iya, Lontar juga berusaha untuk itu. Sedapat mungkin kita mendokumentasikan dan menerjemahkan karya-karya sastra kita. Apalagi sekarang ya, tahun ini Lontar masuk The Literaty Translation Initiative Award dari London Book Fair International Excellence Award 2018. Itu sebuah kebanggaan buat kita semua.”

Mengenai harapan terhadap buku sastra Indonesia ia menjawab semua itu masih sangat kompleks. Dikenal dunia hanya menjadi salah satu aspek kecil yang perlu dilakukan karena banyak penulis Indonesia yang karyanya bagus tetapi tidak dikenal di luar.

“Di dalam negeri kita sendiri, perlu dipikirkan dan dibuat usaha-usaha bagaimana agar buku-buku karya penulis Indonesia bisa lebih sampai kepada publik, kepada pembaca, kepada masyarakat yang sampai sekarang tidak terjangkau.” Ia mengutarakan dukungannya atas apa yang telah dilakukan oleh teman-teman Pustaka Bergerak Indonesia dan taman bacaan masyarakat dalam hal ini. Ia juga tidak ragu mengatakan satu poin penting yang telah dilakukan Presiden Jokowi, yakni membebaskan satu hari dalam satu bulan agar masyarakat dapat mengirim buku secara gratis, memberi efek sangat besar bagi distribusi buku ke daerah-daerah. 

Membandingkan dengan India, sebuah negara tempat buku bisa ditemukan sampai ke pelosok-pelosok, membuatnya berpikir keras atas beban perbukuan di Indonesia. “Di sana harga kertas murah, bahkan sampul buku dan disain tidak semewah di sini. Jadi buku mereka produksi sangat banyak. Saya jalan ke sebuah kota kecilnya saat itu dan saya tidak menyangka di kota kecil sekali macam itu ada toko buku bagus yang menjual banyak buku dan murah.” Menurutnya persoalan mahalnya buku di Indonesia tidak terlepas dari persoalan pajak yang berlapis-lapis. Dimulai dari pajak kertas, pajak di percetakan, kemudian pajak di penerbitan, pajak penulis, semua terkena pajak. Juga ongkos distribusi yang begitu mahal. Hal-hal ini yang sangat disayangkannya karena membuat harga buku menjadi sangat mahal.

“Ya kalau di India ada toko buku atau perpustakaan di daerah-daerah kecilnya, kita juga harusnya seperti itu.” Ia menyadari di daerah-daerah kecil di Indonesia perpustakaan masih sangat kurang. Dokumentasi terhadap buku-buku riset, kebudayaan daerah, dan sebagainya tidak mudah ditemukan atau dalam kondisi yang tidak baik. Tidak ada buku-buku terbaru. Tidak ada buku-buku wajib yang harus ada di perpustakaan seperti karya-karya sastra klasik.

“Persoalan pengadaan buku ini berkaitan dengan soal kesadaran. Sekarang kan ada dana desa. Dengan dana desa itu, pemerintah desa bisa mengadakan buku-buku yang baik untuk perpustakaan, bila masyarakat memintanya, jika masyarakat bersatu, mendesak pemerintah desanya untuk pengadaan buku-buku.”

Itulah sosok Dewi Noviami, perempuan yang bekerja di balik layar memberikan dukungan besar bagi kemajuan perbukuan. Ia memang tidak bekerja seorang diri, ia satu dari sekian banyak orang yang menyumbangkan tenaga, pikiran, dan mencari kemungkinan-kemungkinan lain untuk tercapainya sebuah impian.

Terkadang, sedikit banyak ia menyadari bahwa pekerjaannya di balik layar ini banyak membantu impian orang lain. Ia sendiri berharap suatu saat mampu mewujudkan impiannya sendiri. “Impian saya cuma satu. Saya ingin menerbitkan terjemahan-terjemahan naskah drama saya,” tutupnya dengan senyum sederhana. Berharap industri perbukuan kelak menyediakan tempat dan memiliki pasar yang juga baik bagi naskah-naskah drama.(*)


Riwayat Dewi Noviami

 

Mengikuti Au-pair-Programme di Tübingen/Jerman (1990-1991).

Fasilitator Theatre Study Groups di Deutsche Schule Bandung (Sekolah Jerman) (1991-1992).

Asisten program di German Academic Exchange Service (DAAD) - Jakarta (1994-1996).

Pengajar untuk bahasa dan kebudayaan Indonesia pada Department of Southeast Asian Studies di Universitas Bonn – Jerman (1996-2001).

Program Officer - Goethe Institut, Jakarta (2001-2002).

Manager GoetheHaus – Goethe-Institut Jakarta (2003-2009).

Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta, dua periode sebagai Ketua Komite Teater dan Kepala Bidang Program. (2010-2016).

Anggota Komite Penerjemahan, Komite Nasional Indonesia untuk Tamu Kehormatan Frangkfurt Book Fair (FBF) (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan) (2015).

Koordinator Literary Funding Program – Komite Buku Nasional-Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan (2016-sekarang)

Special Project Officer – Yayasan Lontar (2016-sekarang).

 

Karya Terjemahan

Ibu dan Kematian, terjemahan dari karya Bertolt Brecht, Die Mutter und der Tod.

Jam Dapur, terjemahan dari karya Wolfgang Borchert, Die Küchenuhr.

Mesin Hamlet, terjemahan dari karya Heiner Müller, Hamletmaschine.

Andorra, (bersama Setiaji Purnasatmoko) terjemahan dari karya Max Frisch, Andorra.

Kumpulan Cerita tentang Tuan Keuner, dari terjemahan, Geschichten vom Herrn Keuner.

Jak Sang Calo, terjemahan dari karya Heinrich Böll, Jak, der Schlepper.

Sebuah Laporan untuk Sebuah Akademi, terjemahan dari karya Franz Kafka, Ein Bericht für eine Akademie.

Kebangkitan Arturo Ui yang Dapat Dicegah, terjemahan drama karya Bertolt Brecht, Der aufhaltsame Aufstieg des Arturo Ui.

Electronic City, terjemahan drama karya  Falk Richter, Electronic City.

Kehidupan di Praca Roosevelt, terjemahan dari drama karya  Dea Loher, Das Leben auf dem Praca Roosevelt.

Perempuan dari Masa Lalu, terjemahan dari drama karya Roland Schimmelpfennig, Frau von Früher.

Wa Ode Wulan Ratna

Wa Ode Wulan Ratna. Editor Sastra di Jurnal Ruang. Seorang penulis, editor lepas, dan pengajar lepas.