Suara Lantang Hannah Al Rashid

oleh Angga Rulianto

31 Maret 2018 Durasi: 9 Menit
Suara Lantang Hannah Al Rashid Hannah Al Rashid pindah ke Indonesia karena ingin berbuat sesuatu untuk negeri ini. (Foto: Joshua Irwandi)

"Aurat gue bukan urusan lo! Stop victim blaming. Stop pelecehan seksual."

Hannah Al Rashid tak menyangka kalimat pada poster yang diusungnya dalam acara Women's March 2018 di Jakarta bisa memberikan dua makna yang bagaikan bumi dan langit. Makna pertama, seperti yang Hannah maksudkan, adalah aurat dan tubuh perempuan bukanlah penyebab pelecehan seksual. Sedangkan makna kedua, yang tak pernah disangka-sangka Hannah, adalah ajakan supaya perempuan memperlihatkan auratnya.

Makna pertama diterima secara antuasias tanpa ada distorsi oleh sekitar 1.500 peserta aksi kampanye melawan diskriminasi terhadap perempuan dan gender pada Sabtu, 3 Maret 2018 tersebut. Sementara makna kedua dibicarakan dengan penuh prasangka negatif oleh banyak pengguna Instagram, tempat Hannah menyebarkan foto dirinya bersama poster itu.

Pemain film Modus Anomali (2012) dan Critical Eleven (2017) ini segera mendapat hujatan lewat ribuan komentar. Ia dituduh menghina Islam. Kata-kata makian, seperti lonte dan goblok, diterimanya. Hannah lalu menghapus fotonya tersebut. Kemudian ia juga mengunci Instagram-nya selama beberapa hari.

Gamangkah Hannah akibat hujatan ini, tanya saya. Ia mengangkat sedikit bahunya sambil bilang, "Ya udahlah, ya." Ia malah mengaku lebih mengkhawatirkan perilaku masyarakat negeri ini.

"Cyberbullying adalah masalah besar di negeri ini," kata Hannah.

Menurut Joko Anwar, akting Hannah selalu bersinar di peran apa pun yang ia lakoni. (Foto: Joshua Irwandi)

Sorot matanya tajam, tapi tetap menghangatkan. Jemari tangannya memegang cangkir berisi cafe latte. Pada Senin siang itu, dua hari setelah acara Women's March 2018, kami bertemu di Ruang Seduh, Kemang, Jakarta. Dengan menaiki ojek daringtransportasi andalannya untuk menembus kemacetan ibu kota, Hannah tiba tepat pukul 1 siang, sesuai waktu yang kami sepakati.

Ini bukan kali pertama Hannah dirisak di media sosial. Ia juga pernah dihujat warganet saat foto dirinya bersama Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta (2014-2017), terunggah di Instagram. Bagi Hannah, media sosial memang penuh tipu daya. Ia bisa jadi tempat bersuara sekaligus memaki orang lain dan menyebarkan ujaran kebencian.

Toh, pengalaman dirisak di media sosial ini tidak menyurutkan semangatnya untuk mewujudkan kesetaraan gender di Indonesia. Ia sadar perjuangannya masih panjang, karena banyak orang yang matanya masih tertutup. Maka, lewat Instagram pula, Hannah memberondong warganet yang merisaknya dengan informasi tentang pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia.

"Dua dari tiga perempuan yang alami pemerkosaan berusia di bawah 18 tahun. Sebanyak 93 persen kasus pemerkosaan di Indonesia tidak dilaporkan. Hanya satu persen dari kasus pemerkosaan yang diusut tuntas oleh pihak berwajib," ujarnya dengan lancar menyebutkan data hasil survei Lentera Sintas Indonesia, Magdalene, dan Change.org Indonesia pada 2016.

****

Hannah di hari ini adalah Hannah yang sudah memenuhi dirinya dengan kesadaran dan pemikiran tentang urgensi terjadinya keadilan dalam kehidupan masyarakat. Karenanya, ia tidak tinggal diam ketika perilaku diskriminasi terhadap perempuan semakin kentara di negeri ini dan ikut berjuang mewujudkan kesetaraan gender.

"Dia adalah pekerja seni yang luar biasa. Hannah bukan cuma seorang aktor. Dia juga spons yang menyerap apa yang terjadi di lingkungannya, kotanya, dan di negara ini. Dia sangat aktif menyuarakan apa yang seharusnya disuarakan," ungkap Joko Anwar, sutradara Modus Anomali dan Halfworldsseri televisi HBO yang juga dibintangi Hannah, dalam percakapan via telepon dengan saya pada 29 Maret 2018.

Sifat seperti spons ini sudah terlihat sejak Hannah masih remaja. Delapan belas tahun silam, untuk pertama kalinya ia menyerap cerita novel Bumi Manusia versi terjemahan bahasa Inggris. Dan layaknya spons yang juga bisa mengeluarkan air ketika diperas, begitu pula Hannah. Hatinya remuk selama membaca halaman demi halaman karya besar Pramoedya Ananta Toer itu. Ia menangis.

"Di usia 14 tahun itu, saya merasakan nasionalisme. This is my heritage. Mereka di Indonesia sudah mengalami penjajahan dan ketidakadilan. Nyai Ontosoroh adalah ikon perempuan, buat saya," ucap aktris yang lahir pada 25 Januari 1986 di London, Inggris ini. "Dari baca Bumi Manusia, saya menyadari ada banyak ketidakadilan di dunia. Dan menurut saya, isu kesetaraan gender itu berawal dari ketidakadilan."

Dari siapakah Hannah tahu novel Bumi Manusia? Hannah menjawab, "Waktu itu bapak saya bilang, 'Kalau mau tahu tentang nenek moyangmu, baca Bumi Manusia'. Padahal konteks cerita novel itu sangat Jawa, dan saya juga bapak saya bukan orang Jawa. Dia orang Bugis, tapi dia nasionalis."

Sang ayah, Aidinal Hamzah Al Rashid, memang berperan besar untuk membuat Hannah tidak seperti 'kacang lupa akan kulitnya'. Sejak dini, ia bersama kakak-adiknya diajarkan adat istiadat dan sopan santun khas Indonesia. Semisal, mencium punggung tangan teman ayahnya yang warga negara Indonesia ketika bertamu ke rumahnya di London. Interior rumah mereka pun dihiasi berbagai artefak budaya nusantara, seperti badik, mandau, keris, ukiran, hingga rumah mini Toraja.

Hannah juga serius belajar pencak silat sejak usia 16 tahun dari ayahnya, yang merupakan pendekar pencak silat Bugis-Makassar, sampai akhirnya terpilih menjadi atlet mewakili Inggris. Pelbagai turnamen pencak silat di Eropa hingga level kejuaraan dunia pernah diikutinya dalam kurun 2002-2007. Medali emas dan perak berhasil Hannah bawa pulang. Pencak silat memang mendarah daging dalam keluarganya. Aidinal Hamzah Al Rashid sendiri adalah Presiden Federasi Pencak Silat Eropa (EPSF).

Sang ayah jugalah yang mendorong Hannah untuk aktif membaca buku dan koran supaya mengenali dunia dan mempelajari budaya bangsa lain. Mata dan hati Hannah jadi terbuka. Ia merasa ada pelatuk yang menggerakkan hatinya setiap mengetahui ketidakadilan dan penindasan terhadap manusia. Terlebih saat ayahnya sering bercerita soal penjajahan dalam sejarah Indonesia. Ketertarikan dan rasa penasarannya terhadap Indonesia membuncah.

Lantaran kala itu aliran informasi di internet belum sekencang sekarang, referensi lain untuk memuaskan rasa penasaran Hannah adalah DVD dan VCD film-film Indonesia koleksi ayahnya. Dari Tjoet Nja' Dhien (1986), Daun di Atas Bantal (1997), Ada Apa Dengan Cinta? (2002), Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002), 30 Hari Mencari Cinta (2003), Catatan Akhir Sekolah (2004), hingga Mengejar Matahari (2004) dilahap Hannah.

"I fell in love. Film dan sastra menambah rasa cinta dan ikatan saya pada Indonesia," kata Hannah, yang juga memiliki darah Perancis dan Spanyol dari ibunya, Anne-Marie Al Rashid.

Hannah mengaku suka berjalan kaki dan sering bepergian dengan naik ojek daring. (Foto: Joshua Irwandi)

Selepas SMA pada 2004, Hannah berhasil masuk SOAS University of London (School of Oriental and African Studies), salah satu perguruan tinggi terbaik di Inggris dan dunia yang mengkhususkan diri pada studi Asia, Afrika dan Timur Tengah. Ia memilih studi Indonesian and Development Studies. Di sinilah Hannah mulai mempelajari bahasa Indonesia. Salah satu caranya dengan membaca berbagai novel kanon karya pengarang besar Indonesia. Selain Pramoedya, ia juga menyukai karya-karya Armijn Pane dan Mochtar Lubis.

"Setelah tahu dan bisa bahasa Indonesia, saya benar-benar makin bisa mengapresiasi karya-karya sastra ini. Bahasa Pramoedya itu indah. Saat membaca Nyanyian Sunyi Seorang Bisu versi bahasa Inggris, hati saya tersentuh. Tapi begitu membaca versi bahasa Indonesianya, saya menangis," ungkap perempuan yang juga bisa berbahasa Perancis dan Spanyol ini.

****

Begitu mendapatkan titel sarjana dari SOAS, Hannah ingin bekerja di UNDP (United Nations Development Programme) dan ditempatkan di Indonesia. Ia punya impian untuk turut berbuat sesuatu yang positif dalam pembangunan di negeri leluhurnya. Ia pun segera terbang ke Indonesia dengan mengandalkan uang tabungannya yang hanya berjumlah 500 poundsterling (setara dengan 8 juta rupiah pada 2008).

Sebuah keputusan yang nekat dan, seperti diucapkan Hannah seraya tertawa kecil, "Naif." Apalagi ia kemudian gagal mendapat pekerjaan di UNDP.

Demi menafkahi diri di Jakarta, ia masuk ke industri hiburan dengan menjadi model video klip Yovie & Nuno untuk lagu Dia Milikku, Janji Suci, dan Sejuta Cinta. Pintu kian terbuka. Ia lantas dipinang sebagai Guest VJ MTV, menjadi presenter sejumlah acara televisi, hingga bermain dalam komedi situasi televisi.

Namun, di tahun-tahun awal terjun di industri hiburan, batin Hannah berkecamuk. Sebagai sarjana yang terbiasa dengan didikan akademik dari kampus seperti SOAS, ia merasa asing dalam industri ini. Penyebab lain, sebagai konsumen budaya populer, ia juga sadar bahwa industri hiburan kerap memandang pekerja perempuan hanya dari parasnya. Guna melawan itu, Hannah bertekad untuk menonjolkan personalitas, etika kerja, dan kekuatan intelektual dalam bekerja.

Upayanya membuahkan hasil. Joko Anwar kepincut. Hannah terpilih menjadi pemeran utama perempuan dalam film Modus Anomali. Film thriller itu adalah cinta pertama Hannah pada dunia film. Dan seperti halnya cinta pertama, Modus Anomali tak bisa Hannah lupakan karena berdampak besar pada dirinya.

Ikatan emosi ini juga tak bisa dilepaskan dari peran Joko Anwar. Kemampuan Joko untuk mengeluarkan performa akting terbaik pemain ternyata dapat menenangkan batin Hannah. Sebab, saat itu ia tak kunjung bisa mendefinisikan diri dan posisinya dalam industri hiburan di tanah air.

"Pas main Modus Anomali dan setelah itu saya makin merasa bahwa 'Inilah saya'. My passion is film," ucap Hannah.

Lewat seni peran pula, ia merasakan kenikmatan ketika dapat mengeksplorasi dan mengeluarkan sisi lain, terkadang sisi gelap, yang bersembunyi dalam dirinya. Soalnya, ia meyakini seorang aktor tidak bisa lepas secara total dengan karakter aslinya ketika berakting. Manusia adalah makhluk yang kompleks. Begitu kata pemain film aksi Buffalo Boys yang bakal tayang pada Juli ini.

Joko Anwar pun sudah melihat potensi diri Hannah, yang mampu berakting sekaligus bela diri. Bahkan, ia menilai Hannah sudah memiliki kualitas seorang bintang. Oleh sebab itulah, Joko ingin menjadi sutradara yang memperkenalkan Hannah untuk pertama kalinya ke publik lewat film Modus Anomali.

"Seperti yang saya bilang, dia itu spons yang menyerap segala yang terjadi di sekelilingnya. Ini membuat dia jadi aktor yang sensitif. Ini adalah modal yang sangat penting untuk menjadi pekerja seni peran. Dia juga punya attitude yang sangat baik dan kepedulian sosial. Jadi bukan hanya sebagai aktris, sebagai manusia pun dia komplit," papar sutradara yang terakhir menggarap film horor laris Pengabdi Setan (2017) ini.

****

Sensitif dan berani bersuara. Begitulah sifat Hannah seperti yang diutarakan Joko. Maka, tak mengherankan ketika dalam acara Women's March tempo hari, Hannah naik ke panggung lalu membacakan dengan lantang puisi Because We're Womankarya aktivis perempuan asal Australia, Joyce Stevens, pada 1975.

"Puisi itu bicara soal posisi perempuan yang selalu serba salah dan menjadi korban. Dan itulah yang terjadi pada saya dua jam kemudian saat posting foto saya dengan poster saya. Makanya saya terus semangat untuk menyuarakan soal pelecehan dan kekerasan terhadap perempuan ini supaya orang-orang bisa memahaminya," ungkap Hannah, yang pada 2017 dipilih PBB sebagai penggerak SDG (Sustainable Development Goals) dalam bidang kesetaraan gender di Indonesia.

Isu kesetaraan gender memang jadi perhatian serius Hannah, terutama di Indonesia. Setelah hampir sepuluh tahun tinggal di negara ini, ia melihat ada diskriminasi dalam memperlakukan perempuan oleh masyarakat maupun pemerintah. Hal ini bisa terindikasi dari kasus pelecehan dan kekerasan seksual di Indonesia.

Mengutip hasil survei daring oleh Lentera Sintas Indonesia, Magdalene, dan Change.org Indonesia pada 2016, tercatat ada 1.636 orang dari 25 ribu responden (lebih dari enam persen) yang pernah dipaksa, diintimidasi dan diancam melakukan aktivitas seksual atau pemerkosaan. Sebanyak enam persen dari responden yang alami pemerkosaan dan melapor ke penegak hukum ternyata kasusnya terhenti atau berakhir damai, dan pelaku bebas.

Hasil survei juga memperlihatkan bahwa hanya satu persen dari responden korban pemerkosaan yang kasusnya diusut tuntas oleh penegak hukum. Malahan, 93 persen korban pemerkosaan tidak melaporkan kasusnya ke penegak hukum, karena berbagai alasan. Dua alasan yang paling banyak diutarakan korban adalah takut disalahkan dan takut tidak didukung oleh keluarga.

"Karena pemerkosaan ini dianggap tabu, aib, dan bisa bikin malu keluarga. Sekarang lebih banyak yang menyalahkan korban dan baju yang dia pakai daripada fokus kepada pelaku," kata Hannah.

Hannah sangat menantikan film aksi yang dibintanginya, The Night Comes from Us garapan Timo Tjahjanto, beredar di bioskop. (Foto: Joshua Irwandi)

Selama tinggal di Indonesia, Hannah sendiri mengaku sering mengalami diskriminasi berbasis gender dan pelecehan seksual. "Di London, saya juga pernah beberapa kali alami pelecehan seksual secara verbal, tapi tidak sekonsisten dan tidak sesering di sini," ujarnya.

Bahkan, Hannah pernah mengalami pelecehan seksual nonverbal. Ia ingat betul kejadian di satu hari pada 2013. Saat itu, malam baru datang dan sebuah jalanan di bilangan Cipete Selatan, Jakarta yang dilangkahi Hannah belumlah sepi. Kala sedang asyik berjalan kaki, dua laki-laki yang menunggangi motor dan memakai helm full-face tiba-tiba memepetnya. Tangan seorang di antaranya dengan cepat menggerayangi tubuh Hannah. Mereka lalu kabur.

Rasa kaget, khawatir, dan marah bercampur baur, tapi Hannah tetap berjalan. Ia melewati pos satpam, dan si satpam yang melihat kejadian tadi bergeming. Hannah jengkel luar biasa. Belum jauh ia berjalan, ternyata dua laki-laki itu datang lagi dari arah belakang dan hendak memepet Hannah kembali.

Kali ini ia sigap. Tangan kiri cabul si laki-laki berhasil ditangkap Hannah. Mereka tarik-tarikan. Namun, dua laki-laki ini langsung tancap gas.

"Saat itu saya lebih merasa marah, bukan takut. Insting saya bilang untuk menangkap orangnya. Dan saya orang yang cukup nekat. Jangan nantang saya," ucap pemain film Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015) dan Part 2 (2016) ini.

Dalam industri film dan televisi di Indonesia, pelecehan seksual pun jamak terjadi. Hannah beberapa kali mengalaminya.

"Seperti apa pelecehan yang Anda alami?"

"Digenitin sama pemain laki-laki, fisik dan verbal. Mungkin belum saatnya saya membongkarnya karena di negara ini repurcussions-nya kacau. Gara-gara poster saya saja orang-orang lose their sh*t," kata Hannah. "Itulah kenapa banyak perempuan korban diam, karena belum ada support system yang melindungi mereka secara hukum."

Walau begitu, antara para aktris berusaha saling melindungi. Caranya dengan bertukar informasi tentang aktor-aktor yang suka melakukan pelecehan. "Bahkan di salah satu produksi film, saya dibantu oleh seorang pemain laki-laki yang baru saya kenal. Dia bilang, 'Lo bilang lo cewek gue, biar dia (pemain laki-laki lainnya) enggak ganggu lo'," beber Hannah.

Dengan sederet pengalaman pahit tersebut, tak heran Hannah langsung mengkritik Hanung Bramantyo yang bilang, "Susah menjadi aktor itu. Apalagi aktor pria ya. Kalau perempuan kan ya sudahlah, ibarat kata asal lo cantik aja. Udahlah itu menjadi syarat," dalam sebuah berita di media daring pada November 2017.

Hannah, yang sejak awal berkecimpung di industri hiburan berjuang agar tidak dinilai dari parasnya saja, jelas menentang ujaran bernada seksis itu. "Disappointing to say the least. @Hanungbramantyo," begitu isi twitnya yang dengan cepat menjadi viral. Ia juga segera menulis di Instagram Stories-nya, "Apparently us girls in the industry are only here for our 'pretty faces' and don't need to do anything else eh?"

Mendapat kritik dari Hannah serta warganet lainnya, Hanung [Baca profil Hanung Bramantyo.....] pun segera memberikan klarifikasi panjang soal perkataannya itu sekaligus meminta maaf lewat Twitter. Hannah mengucapkan terima kasih dan memberi maaf.

"Kadang saya merasa hal-hal seksis sudah culturally acceptable dan kita enggak menyadarinya. Jangankan laki, kadang perempuan juga begitu. Saya juga kadang keceplosan seperti itu. Yang penting memperbaiki diri dan tidak mengulanginya lagi. Saya percaya bahwa orang bisa berubah jadi lebih baik. Saya juga harus berubah jadi lebih baik," kata Hannah.

****

"Saya menonton dua jilid film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!"

"Yah, I am sorry."

Dengan volume suara yang rendah, Hannah lekas memotong kalimat saya yang sebenarnya belum tuntas. Ia seakan tahu di mana kalimat saya bakal bermuara. Rautnya menyuratkan kemasygulan.

"Itu juga adalah sesuatu yang sangat saya sesali," ungkap Hannah.

Aktris film Bulan Terbelah di Langit Amerika ini tengah melakukan reading untuk proyek film terbarunya yang diadaptasi dari novel. (Foto: Joshua Irwandi)

Jauh sebelum pengambilan gambar dimulai, Hannah mengaku sudah menyadari akan potensi munculnya seksisme dalam film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 (2016) dan Part 2 (2017) [Baca ulasan film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 2.....]. Namun, Indro Warkop menerangkan kepada Hannah bahwa tokoh perempuan dalam film-film Warkop DKI selama ini berperan untuk menciptakan konflik dalam cerita sembari tetap bisa menyodorkan sisi baik karakternya.

Berbekal penjelasan Indro itu, Hannah pun berniat untuk menghidupkan karakter Sophie yang dilakoninya sebagai perempuan dengan prinsip kuat dalam berinteraksi dengan laki-laki. Wujud prinsip itu antara lain tidak bertingkah menggoda dengan menunjukkan bagian tubuhnya. Hannah memang tidak mau karakter Sophie jadi jatuh terlihat seksi.

"Saya bersama Arie Kriting (komika yang menjadi konsultan komedi Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!, red) bekerja keras untuk menciptakan karakter Sophie yang punya tujuan dan stand out dengan merancang komedi yang juga masuk akal. Tapi toh in the end of the day, saya enggak punya kontrol terhadap editing. Setidaknya dari awal saya sudah menyampaikan suara saya,” jelasnya.

Hannah Al Rashid memang tak gentar untuk bersuara. Ia memegang teguh prinsip bahwa mengutarakan kritik tentang sebuah kekeliruan dengan cara yang baik adalah kewajiban. Apalagi demi menghapus diskriminasi terhadap perempuan dan mewujudkan kesetaraan gender.

Dengan aktivismenya tersebut, sekarang Hannah menyadari bahwa impian lamanya untuk berkontribusi dalam pembangunan di Indonesia akhirnya bisa terwujud. Dan kalaupun aktivisme serta suara kritisnya ini memiliki konsekuensi, yakni pekerjaan jadi berkurang, Hannah tak khawatir.

"Memang kadang saya dibilang kurang komersial dan terlalu politis," lanjut Hannah. "Kalau orang-orang sudah enggak suka dan bosan melihat saya, sehingga enggak dapat job lagi, saya ganti profesi saja. Sesimpel itu. Saya memilih jadi politis daripada prinsip saya dimanipulasi sesuai keinginan orang lain." (*)

Angga Rulianto

Angga Rulianto. Editor Film di Jurnal Ruang. Sejak jadi jurnalis pada 2006, ia banyak meliput film. Tulisan-tulisannya terbit di filmindonesia.or.id, Pikiran Rakyat, Cinema Poetica, dan Muvila.