Antara Sinung, Madonna, dan 'Temporary Truth'

oleh Angga Rulianto

07 April 2018 Durasi: 5 Menit
Antara Sinung, Madonna, dan 'Temporary Truth' Sinung Winahyoko. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Sudah jatuh tertimpa tangga. Begitulah nasib ikan pari kecil yang ditangkap Ilalang. Akibat hasrat seksual yang tak terbendung lagi, remaja pria ini langsung membelek tubuh malang si ikan pari. Ia lalu merancap dengan penuh nafsu sembari menatap foto perempuan berbaju minim pada sobekan sebuah halaman majalah.

Kehadiran patung kecil Bunda Maria di depannya tak dipedulikan Ilalang. Sebab, mata patung itu sudah ia balut dengan robekan plastik. Di luar, suara deburan ombak yang menabrak tiang-tiang jermal mengiringi desahan Ilalang.

Ilalang dan Melati, saudara perempuannya, adalah pekerja di bawah umur dalam sebuah jermal. Pada suatu siang, si majikan datang, dan memperkosa Ilalang. Melati berusaha menolong. Namun, ia malah ikutan bernasib celaka.

Inilah sekelumit kisah Madonna, film pendek karya Sinung Winahyoko. Gambaran hidup manusia yang teramat pahit, keras, dan keji digelontorkan Sinung tanpa tedeng aling-aling. Muram dan membuat bergidik. Sewaktu film ini diputar dalam acara Film Musik Makan di GoetheHaus Jakarta pada 11 Maret 2018, seorang penonton sampai menutup wajahnya dengan telapak tangan. Penonton lain ada yang menunduk.

Sinung Wiinahyoko membuat Madonna lantaran terinspirasi lukisan Madonna of the Rocks karya Leonardo Da Vinci. (Foto: 4 Sisi Film)

Madonna adalah salah satu film yang unjuk gigi di pentas festival film dunia pada tahun lalu. Bersama A Hand-written Poster dari Korea Selatan, Madonna memenangkan Sonje Award, penghargaan film pendek terbaik, dalam Busan International Film Festival (BIFF) yang dihelat pada akhir Oktober 2017.

"Yang jelas sih tidak mengira akan menang ya, ha-ha-ha. Tapi diakui oleh mereka (para juri) bahwa Indonesia sedang memiliki energi yang besar sekali di perfilmannya," ujar Sinung, 34 tahun, dalam wawancara dengan Jurnal Ruang pada Selasa, 3 April lalu.

Setelah Memoria (2010) dan The Taste of Fences (2015), Madonna adalah film ketiga Sinung. Lulusan Akademi Komunikasi Indonesia, Yogyakarta ini mulai berkecimpung di dunia film pada 2007 sebagai pembuat behind the scene sejumlah film. Kini, sehari-hari ia bekerja sebagai sutradara iklan. Sejumlah iklan televisi dari merek-merek ternama, seperti Semen Tiga Roda, Extra Joss, Guinness hingga Aqua, pernah digarap Sinung. Akan tetapi, ia tak lupa untuk membuat film pendek.

“Membuat film bisa menjadi sarana untuk menuangkan ide dari kegelisahan yang saya lihat atau alami di kehidupan sehari-hari. Dia menjadi salah satu dari sekian banyak media yang memberikan kebebasan berpikir dan memberikan proses pencarian temporary truth dari kegelisahan saya,” ujar pengagum Garin Nugroho dan Abbas Kiarostami ini.

Mari simak percakapan Jurnal Ruang dengan Sinung Winahyoko soal film Madonna, isu kemiskinan hingga seksualitas. Berikut kutipannya.

Bagaimana Anda bernegosiasi dengan pemain Madonna dan The Taste of Fences dalam adegan yang memuat aktivitas seksual dan mengharuskan mereka tampil nyaris telanjang?

Untuk kedua film ini saya berkolaborasi dengan anak-anak teater yang lebih menganggap berakting seperti menari di atas panggung. Pendalaman materi mereka sedikit berbeda dan membuat saya belajar banyak. Jika mereka tidak ingin melakukan adegan nudity, ya kita hilangkan saja. Namun, sejauh ini mereka tidak merasa keberatan dengan hal tersebut. Atau ketika di editing mereka tidak setuju dengan satu adegan atau gerakan, ya kita hilangkan yang tidak perlu dan menyimpan yang perlu.

Isu kemiskinan dan seksualitas amat menonjol dalam Madonna dan The Taste of Fences. Mengapa Anda mengangkat dua isu itu?

Dua hal itu akan selalu ada. Kemiskinan, kekayaan, dan nafsu bisa mengubah tabiat manusia. Karena dalam rangka membuat film untuk meneliti manusia, penggunaan seksualitas yang masih tabu coba saya berikan di kedua film ini agar saya sendiri bosan dan berhenti memikirkan mengapa sebuah hal harus tabu. Sementara ketika kita berhenti menganggapnya tabu, malah ada banyak hal yang bisa diraih yang belum terpikirkan sebelumnya.

Melati akhirnya bernasib malang seperti Ilalang, saudara laki-lakinya. (Foto: 4 Sisi Film)

Isu child trafficking juga kental dalam Madonna. Kenapa isu menjadi penting bagi Anda?

Sama seperti tema kemiskinan (yang lebih kaya dianggap manusia, yang lebih miskin dan lemah dianggap seperti benda), anak sering dianggap sebagai makhluk yang lemah. Bagi orang tuanya, kadang mereka tidak memiliki hak untuk memilih menjadi apa. Ini sama saja merampas hak anak itu. Child trafficking atau pekerja di bawah umur masih banyak terjadi dengan alasan kemiskinan. Hal seperti ini kadang mengganggu saya. Saya mau mencari tahu seperti apa mereka ketika mengalami cobaan hidup yang melebihi batas? Apakah mereka masih menjadi manusia? Kedua film ini mempertanyakan hal-hal tersebut lalu dibuat ke dalam adegan. Saya mencoba memahami moralitas generasi mendatang dengan kegelisahan sosial sekarang ini.

Anda sempat bilang di acara Film Musik Makan tempo hari bahwa Madonna terinspirasi dari film Jermal. Bagian mana dari Jermal yang memantik inspirasi Anda?

Saya tumbuh di lingkungan yang kurang kondusif di masa kecil. Tinggal dekat dengan terminal bus dan kampung saya menjadi tempat tinggal preman, copet, hingga pengamen yang kerap membawa pisau lipat sekaligus fan Iwan Fals. Orang hilang atau mati di tempat umum akibat gesekan partai politik sangat wajar terjadi. Sama wajarnya dengan kernet terlindas bus atau preman ditembak “petrus”. Hampir sudah tidak ada wajah panik dari masyarakat yang menonton mayat, seperti ekspresi tayangan sinetron masa sekarang. Ketika menonton Jermal (2008), saya merasakan lingkungan yang hampir sama: anak anak yang tidak mengetahui haknya, tidak tahu masa depannya, hanya belajar dari apa yang mereka lihat di lingkungannya, dan di situlah ia tahu akan menjadi apa. Namun, ada “rasa” yang hilang dari pengalaman masa kecil saya dalam film tersebut. Saya lalu membuat Madonna untuk memberikan “rasa” menurut perspektif saya terhadap kejadian-kejadian semasa Orde Baru.

Dalam Madonna dan juga The Taste of Fences, Anda menaruh karakter-karakternya dalam ruang yang terkesan sempit dan terisolasi. Kenapa begitu?

Ruang kecil sering saya gunakan untuk menafsirkan ruang hidup dalam rumah tangga, ruang hidup bernegara dan lain-lain, agar tidak terlalu pusing he-he-he. Negara ini seperti keluarga, ada kepala keluarga, ada anak-anak generasi mendatang, ada ajaran-ajaran, ada ketidakadilan. Permasalahan yang terjadi sebenarnya sama, yakni antara ruang dengan lingkup luas dan sempit secara psikologis.

Aspect ratio 4:3 yang Anda pakai di Madonna dipengaruhi oleh persoalan ruang kecil itu?

Iya. Selain itu juga mengingatkan masa Orde Baru yang menurut saya kental dengan tayangan-tayangan dengan aspect ratio 4:3. Ada memori tersendiri bagi saya mengenang masa-masa aspect ratio 4:3 ini.

Sinematografi Madonna jauh dari kata indah, suram, dan terkesan kasar. Apa saja pertimbangannya sehingga menerapkan sinematografi seperti ini?

Lebih ke pendekatan karakter dari diskusi-diskusi yang sekiranya cocok untuk adegan-adegan film ini. Jadi dibebaskan saja mau seperti apa. Termasuk Lia (Amalia TS) sebagai DoP harus mengejar emosi yang dikeluarkan pemainnya tanpa pengaturan blocking.

Para pemain Madonna (Arsita Iswardhani, Lucky, dan Nur Qomarrudin) adalah aktor-aktor teater. (Foto: 4 Sisi Film)

Apakah Anda membiayai sendiri pembuatan film pendek The Taste of Fences dan Madonna?

Kedua film ini pembuatannya lebih ke karya kolaborasi. Semua serba meminjam sana-sini untuk mencoba bagaimana memiliki keterbatasan dan kekurangan. Itu sangat penting untuk pendekatan konten filmnya, sehingga membuat kita memiliki rasa keterbatasan dan putus asa yang harus diciptakan. Kalau dibilang dibiayai sendiri sih tidak, membiayai bersama mungkin lebih tepat.

Sehari-hari Anda bekerja sebagai sutradara iklan televisi dan sesekali saja buat film pendek. Apa perbedaan mendasar dari keduanya yang paling Anda rasakan?

Kebebasan dalam penggunaan bahasa gambar. Di iklan konsep besarnya sudah didesain oleh creative agency dan klien, sedangkan sutradara menerjemahkan keinginan mereka dalam bahasa gambar. Ada batasan tertentu yang boleh dan tidak boleh dalam iklan. Sementara di film pendek, saya mencoba membebaskan diri saya dari batasan itu.

Karena Anda lebih sering membuat iklan televisi, apa ada pengaruhnya terhadap proses Anda dalam membuat film pendek?

Tergantung dari mana melihatnya, karena menurut saya, meskipun sama-sama audio visual, keduanya berbeda sama sekali. Iklan sanggup membuat saya bosan dengan hal-hal teknis. Mungkin itu pengaruh terbesar yang bisa diberikan kepada saya. Jadi ketika buat film pendek lebih mengacu kepada konten. Karena gambar-gambar cantik, apalagi akting yang dibuat-buat, sudah harus ditinggalkan untuk membuat film seperti Madonna. Tujuannya untuk mencari jawaban atas proses pencarian temporary truth dari kegelisahan pribadi saya. Malah mungkin perbincangan dengan beberapa creative director di luar bahasan iklan lebih memiliki pengaruh di pendekatan film pendek saya. Ini karena banyak seniman dan kurator besar yang lahir dari lingkaran creative director. Jadi kami saling memprovokasi untuk berbuat lebih.

Omong-omong soal film pendek Anda lagi, kenapa sih Anda memberi judul Madonna?

Ide film ini bermula dari melihat lukisan Madonna of the Rocks. Mungkin saya lagi mencari sosok dalam kisah-kisah yang muncul dari Madonna of The Rocks, karena melihat lukisan itu seperti melihat film. Jika pada masa Leonardo Da Vinci sudah ada medium film, film seperti apa yang dibuatnya? Kejadian-kejadian diceritakan, sama seperti adegan-adegan dalam film, lalu muncul ide Madonna ini, sebagai simbol yang suci pada masa lalu, dan menjadi simbol pemberontakan terhadap kesucian itu sendiri pada masa sekarang. Karena kebetulan naskahnya saya tulis sendiri seperti curhatan di laptop lalu jadi film he-he-he.(*)

Angga Rulianto

Angga Rulianto. Editor Film di Jurnal Ruang. Sejak jadi jurnalis pada 2006, ia banyak meliput film. Tulisan-tulisannya terbit di filmindonesia.or.id, Pikiran Rakyat, Cinema Poetica, dan Muvila.