Cerita Anak Indonesia: Nasib dan Pertarungan

oleh Setyaningsih

09 April 2018 Durasi: 6 Menit
Cerita Anak Indonesia: Nasib dan Pertarungan Perjalanan buku cerita anak Indonesia lebih panjang dan berliku. (Ilustrasi: Yulia Saraswati)

Di majalah dua mingguan Mutiara, edisi1-14 Juni 1988, pernah memuat liputan panjang tentang asupan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Buku sebagai salah satu asupan rohani digelisahkan karena Indonesia lebih didominasi bacaan impor nan komersil. Anak-anak Indonesia masa itu lebih kuyup dengan serial Lima Sekawan, Tintin, Oshin, Asterix, Donald Bebek. Kepala Bidang Penerbitan Balai Pustaka saat itu, Sudibyo Z. Hadisutjipto, mengatakan bahwa bukan soal krisis naskah masuk, tapi mutu tidak layak. Penulis dalam negeri seperti kekurangan ide. Cerita selalu saja tentang anak durhaka, gembala, atau semacam kebangkitan dari dramatisasi kemiskinan.

Seiyanya masa-masa itu Djokolelono dengan imajinasi cerita petualangan dan antariksa mengabarkan bacaan anak bukan sekadar soal penyemaian budi pekerti atau pendidikan karakter, tapi juga gairah atas sains dan penjelajahan. Soekanto SA, pengamat dan penulis cerita anak, masih di majalah yang sama, mengatakan bahwa Balai Pustaka selalu menyediakan asupan cerita terjemahan sekaligus dari pengarang Indonesia. Kita bisa mengingat buku-buku garapan Aman Datuk Majoindo lewat Si Doel Anak Betawi yang berpredikat klasik, Si Samin milik M. Kasim, Dua puluh Dongeng Anak-Anak garapan Zuber Usman, atau Dari Anak untuk Anak garapan Ibu Munah.

“Buku-buku jang ditjetak bukan sadja lagi manuscript jang diterima, melainkan berbagai-bagai buku basa asing diterdjemahkan sendiri oleh Kantor Balai Pustaka atau disuruh diterdjemahkan oleh ahli-ahli jang ada diluar kantor. Begitupun diadakan berbagai-bagai perlumbaan mengarang tentang sesuatu pasal jang sudah ditentukan lebih dahulu.”  Balai Pustaka Sewadjarnja (1948)

Tahun 1917, menginduk pada pekerjaan Komisi Bacaan Rakyat bentukan kolonial yang bertambah, Balai Pustaka memang didirikan.Jangkar Balai Pustaka bukan sekadar banyaknya buku diterjemahkan ke bahasa Melayu, tapi juga penerjemahan ke bahasa Jawa, Sunda, Madura, Bali, dirumahkan di Taman Pustaka di pelbagai daerah.

Tentu, tidak ada yang benar-benar bisa atau ingin melakukan ‘nasionalisasi’ bacaan, bahkan Soeharto dengan program gigantis pengadaan bacaan Inpres untuk anak di seluruh Indonesia sejak tahun 1970-an. Lewat buku bacaan, pemerintah bersama program pembangunan terlalu ingin hadir. Tokoh tidak lagi lugu dan tampak birokrat mengemban tema pembangunan desa, transmigrasi, KB, swasembada pangan, wirausaha, pelestarian lingkungan. Sejak dalam judul, pemerintah menampakkan kepatuhan. Anak Indonesia tidak boleh nakal (pada pemerintah), seperti bacaan-bacaan Anak yang Berani (Ny. R. Rosyadi, 1988), Anak yang Baik (Muliaman, 1993), Penyandang Gelar Puteri Teladan (Wid. Esteha, 1983), Hari-hari Bersama Teladan (A. Malik Thachir, 1985). Kita kini tahu bahwa muara bacaan anak Orde Baru itu berakhir di loakan atau kardus berdebu di perpustakaan. Buku-buku bacaan digarap oleh penulis Indonesia, pun melibatkan sastrawan seperti Korrie Layun Rampan, Mansur Samin, K. Usman, dan Maria A. Sardjono, cukup susah memiliki tempat dalam perigi ingatan pembaca yang mengabadi.

 

Prosais Anak

Jajaran prosais Indonesia memang sempat melengkapi karir kepenulisan dengan menulis cerita anak. Entah, menulis cerita anak hanya biasanya bukan kekhususan, tapi menjadi jeda dari rutinitas menulis yang dewasa (serius). Anak mungkin hadir sebagai sebentuk tokoh atau gagasan, anggaplah novel Ziggy Z., Di Tanah Lada (2015) atau Semua Ikan di Langit (2017) yang mengadopsi lirisme ala The Little Prince garapan Antoine de Saint-Exupery, publik ataupun juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta akan sulit menganggapnya sebagai novel anak karena peruntukan novel tetap bagi pembaca dewasa. Buku cerita anak Ziggy Z. tetaplah seri Islamic princess berjudul Putri Qawiya dan Kekuatan Super (2018) dan Putri Awalia dan Pelajaran Pagi Hari (2018) terbitan Mizan. Kita pasti menemukannya di rak toko buku lini anak. Penerimaan kedua buku kemungkinkan tidak seheboh Semua Ikan di Langit dalam hal apresiasi atau proses kreatif.

Ini agak berbalik dari penulis novel metropop Clara Ng yang akhir-akhir ini lebih moncer dan serius menggarap cerita anak seperti, Sejuta Warna Pelangi (2015) dan Dongeng Tujuh Menit (2015) digarap serius sejak ide cerita, ilustrasi, sampai pengemasan. Di tengah bacaan anak terjemahan, buku cerita Clara Ng jelas bisa bertarung. Namun di saat penerbit masih terus akan menerbitkan dongeng-dongeng Eropa klasik sampai cerita bertokoh Disney yang sangat kekinian, tahun ini pembaca Indonesia dihadapkan pada novel Mata di Tanah Melus (2018) garapan Okky Madasari. Kepanjangan usia novel ini sepertinya lebih ditentukan oleh pembaca dewasa karena penerimaan atas Okky tetaplah sebagai prosais, bukan penulis cerita anak.

 

Petaka Modern

Seperti novel-novel Okky yang sarat mengangkat masalah masyarakat, Mata di Tanah Melus sebagai sebuah cerita anak mengecilkan diri dalam ranah keluarga. Kita memang masih mendapati kritik yang tampil dalam perasaan bocah perempuan berumur 12 tahun yang sering mengeluh atas tingkah laku orang dewasa di sekitarnya. Mata, anak tunggal dari sepasang suami-istri yang berprofesi sebagai jurnalis dan penulis cerita. Sebagai anak yang tumbuh di wilayah urban Jakarta, riwayat imajinatifnya justru dihidupi oleh cerita lisan dari Nenek Mar setiap kali liburan sekolah. Mata mengatakan, “Di dalam cerita, aku bertemu banyak sekali teman baru, orang yang jauh lebih aku percaya dibanding siapa pun yang aku temui di sekolah atau sekitar rumah—bahkan dibanding orangtuaku sendiri.”

Dunia cerita memang pelarian Mata saat menghadapi orangtua yang sayang sekaligus bisa sangat cuek, pendidikan agama di sekolah yang horor-mendoktrin, dan keretakan rumah tangga karena soal ekonomi. Inilah petaka bagi anak di dunia modern.

Meski novel ini dipersembahkan Okky untuk anaknya, Mata Diraya, Mata sang tokoh seolah ingin mewakili banyak anak urban yang mengalami masalah sosial serupa. Pelarian dari frustasi dunia modern, Mata dan mamanya berlibur ke Belu di Indonesia Timur, wilayah yang dikatakan tidak terpetakan oleh Google dan tidak sengaja saling terpisah-tersesat di negeri orang-orang Melus.

Meski banyak cerita petualangan bermula dari ketidaksengajaan, kita sulit menemukan perubahan dari kecelakaan menjadi ketakjuban dari kedirian seorang anak. Dari Mata di Tanah Melus yang lumayan imajinatif dan misterius pada sampul bukunya, kita mungkin sempat berpamrih bahwa cerita (petualangan) anak garapan penulis Indonesia memiliki kekhasan tak kalah dari cerita-cerita terjemahan yang mengabadi, seperti The Big Friendly Giant (Roald Dahl), Alice’s Adventures in Wonderland (Lewis Carroll), Thumbelina (H.C. Andersen). Namun, kita mungkin amat biasa merasakan penggarapan, terutama soal bahasa dan kurangnya ‘keliaran’ penulis bermetafora tentang tanah Melus.

 

Imajinatif dan Realis

Tanah Melus secara harfiah bisa mewakili kelebatan hutan Indonesia. Bagi Mata, hutan adalah wilayah imajinatif yang tentu jauh urban. Memasuki tanah Melus inilah, kita merasakan Okky berusaha keras menciptakan latar imajinatif nan ajaib daripada latar realis yang selalu jadi garapannya. Ada pertarungan antara orang Melus yang menjaga tanah kelahiran sebagai pusaka dan orang Bunag yang gemar merampas, membunuh, dan menenteng senjata. Bukankah ini cukup menganalogikan masalah (dewasa) Indonesia hari ini? Mata bersama anak Melus, Atok, pun menelusuri Hutan Kaktus, Kerajaan Kupu-kupu, dan danau penghisap untuk mencari mama. Mereka juga bertemu Ratu Kupu-kupu yang sendu. Hanya, deskripsi yang serba imajinatif ini masih terlalu wajar dan kurang mengejutkan. Kita sulit mengalami petualangan menegangkan yang wah.

Dulu, Indonesia pernah juga punya cerita klasik nan falsafi tentang bocah-bocah surau yang mendengar kisah anak pemalas berjuluk si penidur dalam Cerita Si Penidur (1928) garapan Aman Dt. Madjoindo yang mengalami cetak ulang ke-6 pada 1975 oleh Balai Pustaka. Di hutan, si penidur bertemu gergasi di hutan dan diberi alat-alat ajaib untuk memperbaiki nasib. Aman tidak menjadikan hutan sebagai wilayah imajinatif yang terpisahkan dari desa atau kampung. Keberadaan hutan dan misteri kelebatannya tampak wajar saja karena belum terjadi perubahan lanskap yang gawat.

Cerita Si Penidur berlatar di Sumatra dengan struktur kalimat dan kehidupan yang khas Melayu. Yang pasti, Aman berhasil membawa cerita klasik perjalanan si penidur terjadi pada seorang bocah surau yang berharap bisa kaya seperti si penidur. Keberadaan hikmah yang membedakan prosa lawas dari prosa modern. Pada cerita lawas, petuah dan nasihat pasti ada sebagai penutupan. Mengikuti kecenderungan modern, Mata di Tanah Melus sedikitnya menuju kepada kenihilan hikmah.

Mendapati buku-buku bacaan anak di toko buku dari nuansa petualangan sampai cerita moralis bertema ke-princess-an, mulai kemasan sampul biasa sampai sampul tebal, atau dari penggarapan gambar dari manual ke digital, memperlihatkan pertaruhan pasar di tengah kesadaran akan kebutuhan bahwa asupan anak bukan hanya susu, makanan, atau mainan. Namun, pertaruhan penulis Indonesia sepertinya bukan hanya jumlah. Penulis Indonesia harus membayangkan sebuah corak.

Banyak cerita anak garapan penulis Indonesia yang justru lebih asing dari cerita terjemahan. Penulis memilih menggunakan latar, penamaan, dan jalan cerita yang cenderung mengasing, bahkan sejak dalam judul.

Gelagat ini sangat tampak dari penulis anak yang amat energik, tapi terlalu banyak asupan asing entah dari film, kartun, atau komik asing. Mereka tentu lebih berterima membayangkan Anna dan Elsa daripada Bawang Merah atau Timun Emas. Secara tampilan, Anna dan Elsa lebih mewakili pembayangan tentang putri berkekuatan super dan gaul sekalipun mereka, Anna dan Elsa, sama sekali tidak milenial.

Terbitan buku anak garapan penulis Indonesia kekinian tetaplah sebuah optimisme pustaka anak Indonesia meski kita melihat gelagat yang agak norak. Kita pun memang harus mafhum bahwa Indonesia belum memiliki anugerah atau penghargaan atas buku anak dan penulis cerita anak yang cukup bergengsi. Kita sadar bahwa penghargaan buku berkelas nasional di Indonesia sulit menempatkan buku cerita anak di jajaran nominasi. Bacaan anak cenderung terkategorikan di tingkatan yang lebih rendah dari “sastra”, ia belum menjadi bagian dari sastra publik pada hakikatnya.(*)


Daftar Bacaan

“Kian Langka, Santapan Rohani Anak-anak Indonesia” di Majalah Mutiara, edisi 1-14, Juni, 1988.

Balai Pustaka Sewadjarnja 1908-1942. 1948. Jogjakarta: Balai Pustaka.

Christantiowati. 1996. Bacaan Anak Indonesia Tempo Doeloe, Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945. Jakarta: Balai Pustaka.

Dt. Madjoindo, Aman. 1975. Cerita Si Penidur. Jakarta: Balai Pustaka.

Madasari, Okky. 2018. Mata di Tanah Melus. Jakarta: Gramedia.

Buku-buku bacaan Inpres, sekitar 300 buku, dikoleksi dan didapat penulis dari pasar buku lawas Gladag Solo.

 

Setyaningsih

Setyaningsih. Esais, penghayat pustaka anak, pengemudi buletin resensi "Bukulah!", dan penulis buku "Bermula Buku, Berakhir Telepon" (2016).