Awal September lalu, pengarang novel remaja Becky Albertalli mengungkap identitas seksualnya dalam sebuah tulisan panjang di Medium. Perlukah ia melakukannya atas desakan pembacanya padahal ia seorang cishet?

Agatha Christie selalu diasosiasikan dengan karya bergenre detektif. Hercule Poirot tidak kalah masyhur dari Sherlock Holmes. Namun, para tokoh ciptaannya terjebak stereotip. Simak ulasannya.

Kritik terhadap praktik kanonisasi karya dan penulis semakin sering muncul di kalangan akademis maupun pelaku dunia sastra Indonesia. Martin Suryajaya dan buku terbarunya bertajuk 3T berupaya melakukan hal serupa. Apakah eksperimennya ini berhasil?

Jika sebuah film menampilkan realitas, apakah berarti film itu adalah sebuah kenyataan yang mutlak?

Apakah “film berbicara dengan bahasa universal” masih berlaku jika mereka yang sudah dipinggirkan oleh keadaan tak mendapatkan tempat?

Perempuan Punya Cerita seakan berjalan di atas seutas tali tipis: memotret realitas muram atau tergelincir pada melodrama mengenai kegagalan perjuangan perempuan.

Film jadi medium untuk mengungkap luka lama di kala tidak adanya pengakuan dari pemerintah dan sejarah yang masih sesak dengan narasi Orde Baru.

Perbedaan situasi sosial-politik di era Orde Baru dan Reformasi ternyata melahirkan film horor yang berbeda, baik pada level kemasan maupun pada gagasannya.

Difalitera, prakarsa Indah Darmastuti menghadirkan bacaan kepada difabel netra. Indah berbagi proses kreatif pengerjaan proyek ini. Ini menegaskan, inklusivitas adalah kunci membentuk semangat membaca di kalangan difabel.

Peristiwa kekerasan seksual penting untuk diceritakan dari perspektif penyintas dan juga harus berpihak kepada mereka.