Kembali lagi bersama kami di SEKILAS edisi November. Kali ini, Anida Bajumi memberikan rekomendasi versinya, menggantikan Tomo Hartono yang berhalangan hadir.

Di tengah pandemi COVID-19, Dhianita Kusuma Pertiwi mengimajinasikan pandemi 100 tahun dari sekarang. Para perempuan "buruh afektif" hadir sebagai sosok dominan. Bagaimana kecanggihan teknologi di masa depan "mengalahkan" pandemi?

Kelebihan dan pesona gagasan buku B. Herry Priyono dalam pembahasannya mengenai korupsi tampak pada rincian semesta pendekatan kontemporer yang dipergunakannya. Dari wilayah filsafat moral ke ilmu sosial dengan pendekatan ekonomi, tata kelola, antropologi, kriminologi, hingga Marxisme.

Di SEKILAS edisi kedua, Tomo dan Yudhis kembali memberikan rekomendasi musik mantap versi mereka yang rilis di bulan Oktober. Kali ini juga dihadiri bintang tamu, Manan Rasudi, yang turut serta meramaikan musik pilihannya.

Gentayangan adalah kisah perjalanan perempuan kosmopolit dengan banyak kemungkinan rute dan kejadian bercampur horor, mitologi, serta berbagai penafsiran baru kisah-kisah petualangan masa kecil. Menggunakan teknik penulisan "pilih sendiri kisahmu", Intan Paramaditha mengajukan pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang hidup kosmopolit di kala batas-batas wilayah semakin kabur.

Madiun dalam Kemelut Sejarah: Priyayi dan Petani di Keresidenan Madiun Abad XIX merupakan karya puncak sejarawan Onghokham. Berangkat dari disertasinya, buku ini menyuguhkan ide-ide menarik Onghokham mengenai pembentukan masyarakat Indonesia hari ini yang didasarkan pada relasi priayi-petani tempo dulu.

Dua belas esai dalam Kaki Kata mengisahkan perihal Nirwan Dewanto dan sastra. Dari pengenalannya akan sastra, pengalamannya membaca karya-karya sastra dunia, dan kritiknya terhadap perkembangan sastra Indonesia mutakhir.

Pada edisi perdana SEKILAS, Tomo Hartono dan Yudhistira Agato merekomendasikan musik-musik apik yang dirilis pada September lalu - dari gamelan eksperimental sampai pop manis.

Gelombang arus migrasi lantaran huru hara politik senantiasa berlangsung secara dramatis. Kiprah dan pengaruh di ‘tanah air’ yang baru dari migran politik tersebut meninggalkan rangkaian jejak langkah yang masih bisa dijumpai, dirayakan serta diziarahi sekaligus. Loyalis Dinasti Ming adalah salah satu gelombang migrasi Tionghoa di Asia Tenggara yang patut disoroti.

Cerpen-cerpen Amanatia Junda dalam Waktu untuk Tidak Menikah menunjukkan persentuhan langsungnya dengan pahitnya mencari keadilan di hadapan timpangnya relasi kuasa.